Melihat Lagi Efektivitas Vaksin Rotavirus pada Bayi

Diare menjadi salah satu penyakit endemis di Indonesia yang potensial sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dari tahun ke tahun. Penyakit yang menyerang sistem pencernaan ini adalah penyebab terbanyak kematian pada Bayi di Indonesia.  Sebanyak 38-67% diare pada anak di Indonesia disebabkan oleh Rotavirus grup A (RVA).


WHO memperkirakan kematian akibat gastroenteritis rotavirus sejumlah 453.000 dengan angka mortalitas 86 kematian per 100.000 populasi anak di bawah 5 tahun. Dengan kata lain, diare berat akibat rotavirus menyumbang 5% dari seluruh penyebab kematian pada anak.


Dari tampilan klinis, gejala yang biasa muncul pada pasien dengan gastroenteritis akut adalah diare, muntah, demam, dan dehidrasi. Akan tetapi, prevalensi gejala-gejala tersebut didapatkan lebih tinggi pada pasien dengan rotavirus positif daripada pasien dengan rotavirus negatif. Misalnya, sebanyak 54,2% pasien dengan rotavirus positif memiliki kecenderungan muntah ≥5 kali dalam 24 jam.


Beban mortalitas dan morbiditas infeksi rotavirus pada anak yang sangat besar tersebut, sangat penting untuk memberikan vaksin, khususnya pada populasi anak kurang dari 2 tahun. Melawan rotavirus, akan jauh lebih baik bila vaksin rotavirus juga dimasukkan menjadi salah satu vaksin wajib bagi seluruh anak Indonesia.


Perjalanan vaksin Rotavirus

Generasi pertama vaksin rotavirus adalah vaksin hewan galur tunggal (dari sapi dan rhesus) dengan harapan bahwa penggunaannya akan direspon secara alami oleh manusia. Uji lapangan vaksin tipe ini di beberapa negara menunjukkan variabel hasil yang berbeda-beda sehingga vaksin galur tunggal yang berasal dari hewan saat ini tidak digunakan lagi, kecuali di Cina yang menggunakan vaksin dari galur domba.


Baca Juga:

Berbagai usaha dilakukan untuk mendapatkan vaksin dengan efikasi yang lebih baik melalui proses pembuatan vaksin reassortant dari beberapa galur virus yang menginfeksi manusia dan hewan.


Pada tahun 1998, vaksin rotavirus pertama kali dibuat dan mulai dipasarkan di Amerika Serikat dengan merek RotaShiled. Namun, karena efek samping intususepsi yang sering terjadi maka vaksin tersebut dicabut dari peredaran.


Tujuh tahun berselang, vaksin baru dengan merek rotatrix (GSK) dan rotateq (Merck) muncul, dan 11 tahun kemudian muncul dua vaksin tambahan dari india yaitu Rotavac (Bharat) dan Rotasiil (Serum Institute) dibuat dan direkomendasikan penggunaannya oleh WHO (World Health Organization).


Saat ini, vaksin rotavirus telah digunakan di lebih dari 100 negara dan telah berkontribusi terhadap menurunnya angka hospitalisasi dan kematian akibat diare. Beberapa negara yang telah menempatkan vaksin rotavirus dalam program imunisasi rutin menunjukkan angka hospitalisasi akibat rotavirus, gastroenteritis, dan mortalitas akibat diare yang berkurang (nilai median 59%, 36%, dan 36%).


Namun, beberapa temuan studi di beberapa negara menemukan bahwa vaksin yang mengandung virus hidup ini tergolong kurang efektif untuk diberikan pada negara berkembang dengan angka under 5 year mortality rate (U5M: angka kematian pada bayi dan anak di bawah umur 5 tahun per 1000 kelahiran) yang tinggi dengan alasan yang belum diketahui pasti.


Beberapa usaha telah dilakukan untuk mengembangkan vaksin baru yang tidak diberikan secara oral. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas vaksin, khususnya pada negara berkembang agar infeksi rotavirus global dapat terkontrol.

 

Efektivitas Vaksin

Setelah hampir 5 dekade sejak vaksin rotavirus ditemukan, angka mortalitas anak akibat diare menurun secara signifikan, mulai dari 3,6 juta kematian pada tahun 1986 hingga 500.000 kematian pada tahun 2018.



Gambar I: Angka kematian akibat diare dan infeksi rotavirus pada anak dibawah umur 5 tahun dari tahun 1998 hingga 2007 (IA : Total kematian akibat diare, IB : Total kematian akibat infeksi rotavirus).


Namun, ketika efektivitas dari vaksin hidup oral ini diteliti dan dibedakan berdasarkan pendapatan per kapita negara, terdapat perbedaan yang signifikan. Efektivitas vaksin tampak lebih tinggi pada negara dengan U5M (kematian/1000) yang paling rendah (nilai median 87%), intermediate (median 75%) pada negara dengan angka U5M 10-20, dan efektivitas paling rendah pada negara dengan angka U5M yang paling tinggi (median 60%).


Efektivitas vaksin juga tampak tinggi pada negara dengan pendapat per kapita besar (Perkapita > 12.375 dollar), namun tidak tampak adanya perbedaan dari median efektivitas (nilai median 60-62%) dari strata pendapat rendah (1.026 dollar) hingga menengah ke atas (3.996-12.375 dollar) walaupun terdapat variabilitas yang tinggi pada skala tersebut.


Gambar II: Efektivitas dari pemberian vaksin rotavirus oral di beberapa negara. IIA perbandingan efektivitas sesuai pendapatan per kapita; IIB Perbandingan efektivitas terhadap angka Under 5 years Mortality (U5M).


Banyak studi yang meneliti alasan mengapa efektivitas vaksin ini berkurang di negara dengan pendapatan per kapita rendah. Beberapa penelitian menyebutkan malnutrisi dan stunting merupakan faktor yang signifikan. Koinfeksi terhadap patogen pencernaan lain tampaknya tidak terlalu berperan terhadap efektivitas vaksin ini. Beberapa penelitian terakhir menunjukkan faktor lingkungan akibat perubahan mikrobiome yang mempengaruhi intrake nutrisi juga memiliki peran terhadap efektivitas vaksin.


Beberapa studi lain menunjukkan umur ketika vaksinasi turut berperan, di mana anak dengan umur yang lebih tua memiliki respon imun yang lebih baik, meskipun tidak semua studi memperlihatkan hal tersebut.


Pengaruh Faktor Imun

Respon imun terhadap vaksinasi rotavirus pada bayi beragam dengan tren kemampuan imunogenesitas vaksin yang berkurang pada negara dengan pendapatan yang rendah. Walaupun tingkat immunogenesitas tidak secara langsung berhubungan dengan efektivitas vaksin, diduga terdapat beberapa bukti gangguan sistem imun yang terjadi pada anak di wilayah tertinggal.


Di negara maju, bayi yang diberikan vaksin rotavirus 1 (RV1), efektivitas vaksin terhitung 85%, dan ditemukan titer antibodi igA yang lebih tinggi (konsentrasi rata-rata 206U/mL, serokonversi = 86%). Berbeda jika dibandingkan pada anak di negara tertinggal yang diberikan vaksin, didapatkan titer igA yang lebih rendah (titer rata-rata: 68 U/mL, serokonversi: 63%) dengan efektivitas vaksin hanya 51%.


Perkembangan pesat dari pencegahan infeksi rotavirus sudah terjadi dalam 3 dekade terakhir semenjak ditemukannya vaksin rotavirus. Walaupun efektivitas vaksin tampaknya berkurang pada negara tertinggal, namun vaksin ini masih dapat dilakukan sebagai salah satu upaya mencegah infeksi rotavirus berat. Diperlukan temuan vaksin baru yang sebaiknya diberikan tidak melalui oral untuk meningkatkan efektivitas, terutama temuan yang sesuai dengan kondisi di Indonesia mengingat luasnya wilayah yang memungkinkan tingginya variasi rotavirus yang beredar.


Selain itu,  tentu saja, analisis ekonomi dari ketersedian vaksin yang lebih terjangkau akan sejalan dengan tingkat penyebaran vaksinasi.


Sebagai Kondisi yang potensial menjadi Kejadian Luar Biasa di tiap tahun dan penyebab utama kematian pada anak, penanganan diare pada anak sangat mendesak untuk diketahui. Ikuti Continuing Medical Education (CME) dari Sejawat Indonesia tentang Penanganan Diare Akut pada Pediatri untuk mengetahui penanganan terbarunya, sekaligus menambah poin SKP Anda. 


Referensi:

  1. Performance of rotavirus vaccines in developed and developing countries (https://doi.org/10.4161/hv.6.7.11278).
  2. The Rotavirus Vaccine Story: From Discovery to the Eventual Control of Rotavirus Disease (https://doi.org/10.1093/infdis/jiaa598)
  3. Molecular Epidemiology and Clinical Features of Rotavirus Infection Among Pediatric Patients in East Java, Indonesia During 2015–2018: Dynamic Changes in Rotavirus Genotypes From Equine-Like G3 to Typical Human G1/G3 (doi: 10.3389/fmicb.2019.00940).
  4. Masa Depan Vaksin Rotavirus di Indonesia (Media Litbangkes, Vol. 24 No. 4, Desember 2014, 215 - 220)

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres