sejawat indonesia

Pengaruh Estrogen Terhadap Migrain pada Pria

Estrogen dikenal sebagai pemicu migrain pada wanita. Namun kini estrogen juga berperan terhadap migrain pada pria.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Belanda, pria yang migrain mengalami peningkatan pada kadar estradiol, serta gejala yang konsisten dengan defisiensi androgen relatif. W.P.J. (Ron) van Oosterhout, seorang neurologis dan kepala penelitian di Leiden University Medical Center, Rotterdam, Belanda mengatakan bahwa tingkat estrogen yang lebih tinggi membuat pria lebih rentan terkena migrain.

Fluktuasi estrogen, terutama penurunan estrogen sebelum menstruasi, dianggap sebagai pemicu migrain pada wanita. Hingga saat ini tidak ada penelitian lanjutan yang dilakukan mengenai hormon seks pada pria dengan migrain.

Ini merupakan penelitian pertama yang menunjukkan bahwa perubahan atau perbedaan kadar hormon seks juga memiliki dampak tidak hanya pada wanita saja, tetapi juga pada pria. Memang agak tidak biasa melihat jenis penelitian yang berfokus pada pria dengan migrain, karena dalam hal ini, wanita yang mengalami migrain lebih banyak dibandingkan pria.


Hormon dalam Fluks

Peserta termasuk 17 pria yang tidak obesitas dengan usia rata-rata 47 tahun, mengalami sakit kepala migrain rata-rata 3 kali dalam sebulan dan tidak ada yang mengkonsumsi obat obatan yang dapat mempengaruhi kadar hormon. Mereka dibandingkan dengan 22 pria yang tidak mengalami migrain, kemudian dicocokkan dengan usia dan indeks massa tubuh.

Pada semua peserta, peneliti mengukur kadar estradiol dan menghitung kadar testosteron bebas dalam serum pada 4 titik waktu selama 1 hari, masing-masing selang waktu selama 3 jam. Pria yang mengalami migrain, diambil sampel darah pertamanya pada hari di mana mereka tidak mengalami migrain dan kemudian tiga hingga empat hari setelahnya sampai serangan migrain terjadi.

Dibandingkan dengan pria tidak migrain, pria yang mengalami migrain memiliki tingkat estradiol yang lebih tinggi migrain (96,8 vs 69,1 pmol / L; P = 0,001), tetapi tingkat testosteron bebas yang sama (357,5 vs 332,6 pmol / L; P = 0,35), yang menghasilkan rasio testosteron yang lebih rendah terhadap estradiol pada pria dengan migrain (3,9 vs 5,0 L; P = 0,03).

Selain itu, pria dengan migrain lebih sering melaporkan gejala kekurangan androgen seperti gangguan atau perubahan pada suasana hati, energi dan gangguan seksual (61% vs 27% untuk kontrol; P = 0,031) dan gejala mereka seringnya lebih parah.

Tingkat estrogen yang tinggi dapat meningkatkan kerentanan otak terhadap depolarisasi penyebaran kortikal—penyebaran gelombang hiperaktif sel-sel saraf diikuti fase yang dibungkam—yang dianggap sebagai mekanisme yang mendasari untuk aura migrain dan pemicu yang diduga untuk sakit kepala migrain.

Bagaimanapun, peran testosteron masih kurang jelas mencatat bahwa dalam studi ini tingkat testosteron meningkat sebelum serangan migrain hanya pada pria dengan gejala-gejala premonitory.   

Sumber: MedScape.
Studi ini didanai oleh Organisasi Belanda untuk Penelitian Ilmiah, Spinoza Premium, dan Komisi Eropa. Penelitian ini dipublikasikan online 27 Juni di jurnal Neurology.

Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaPenggabungan Antibiotik Mengubah Keefektifannya

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar