sejawat indonesia

Pengaruh Orang Tua terhadap Risiko ADHD pada Anak

Sejak tahun 1970-an, siswa sekolah dasar mengalami peningkatan yang signifikan dalam jumlah tugas dan pekerjaan rumah yang diterimanya. Begitu pula dengan siswa taman kanak-kanak yang belakangan ini harus meluangkan lebih banyak waktu di sekolah dan pembelajaran. Sejak saat itu pula, prevalensi jumlah penderita ADHD meningkat, khususnya di Amerika Serikat dimana terjadi peningkatan lebih dari dua kali lipat.

Menurut peneliti utama Dr. Jeffrey Brosco, tren ini belum tentu berkaitan secara langsung, mengingat banyaknya hal lain yang terjadi sejak tahun 1970-an, namun tingginya tekanan akademik secara logika dapat meningkatkan diagnosa ADHD pada anak. "Mungkin Anda memiliki anak yang sulit untuk memperhatikan hal-hal yang membosankan. Ini menjadi masalah hanya jika Anda memaksakan anak Anda memperhatikan hal-hal membosankan." Dr. Brosco berpendapat.

"ADHD adalah gangguan neurobiologis, yang berasal dari otak, dan bukan pengaruh dari lingkungan"

Stephanie Wagner

Stephanie Wagner, seorang asisten profesor psikiatri anak dan remaja di NYU, New York, justru berpendapat bahwa tugas atau pekerjaan rumah bukanlah penyebab langsung dari ADHD. "ADHD adalah gangguan neurobiologis, yang berasal dari otak, dan bukan pengaruh dari lingkungan" tuturnya. "Akan tetapi lingkungan memiliki peran dalam memperparah gejala-gejala dari gangguan tersebut. Sehingga, anak penderita ADHD akan memiliki lebih banyak kesulitan jika selalu diberikan pembelajaran dan tidak memiliki kebebasan untuk bermain."

Dalam dekade terakhir terjadi beberapa tren lainnya yang dapat menyebabkan meningkatnya diagnosa ADHD pada anak. Diantaranya adalah perubahan pada cara mendiagnosa ADHD, serta pemasaran medikasi ADHD yang lebih agresif. Akan tetapi sesuai pendapat Dr. Brosco, terdapat pula perubahan dalam tuntutan akademik. Perubahan terbesar dapat ditemukan khususnya pada anak-anak berusia 6 hingga 8 tahun, dimana pada tahun 1997, rata-rata waktu yang diluangkan untuk pekerjaan rumah meningkat menjadi lebih dari dua jam per minggu, dibandingkan pada tahun 1981 dengan rata-rata waktu kurang dari satu jam per minggu.

Begitu pula dengan siswa taman kanak-kanak, dimana terdapat 77 persen orang tua yang mendedikasikan waktunya untuk lebih sering mengajarkan anak-anaknya membaca dan menulis pada tahun 2005. Tren ini meningkat 58 persen dari tahun 1993.

"Bukannya orang tua tidak boleh memberi stimulasi pemikiran anaknya, tetapi seharusnya dilakukan melalui permainan dan penghubungan daripada pelajaran." kata Brosco. "Seharusnya orang tua membacakan cerita untuk anaknya, itulah interaksi sosial. Tidak menggunakan teknik-teknik yang mengharuskan anak 'menjawab dengan benar'".

"Di usia seperti itu, yang terpenting adalah bermain dengan bebas, interaksi sosial, dan menggunakan daya imajinasi" tambah Brosco. "Kita harus berhati-hati dalam menyampaikan ekspektasi pada anak agar mereka tidak merasa bahwa mereka 'salah'. Kita ingin mereka suka belajar."

Sumber: healthday.comwebmd.com

Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaCara Menyentuh Jari Tangan Yang Membuat Anda lebih Sehat

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar