sejawat indonesia

Teknik Jahitan Bedah yang Mengurangi Infeksi Daerah Operasi

Dalam proses pembedahan tidak sedikit mikroba yang ikut masuk atau tidak sengaja masuk ke dalam anggota tubuh yang dibedah, mikroba ini dapat berupa bakteri, jamur, dan virus. Mikroba yang masuk, dapat menyebabkan gagalnya suatu pengobatan dan menyebabkan infeksi nasokomial.

 

Infeksi nasokomial atau Health-care associated infections (HAIs) yang paling sering terjadi yaitu Infeksi Daerah Operasi (IDO).

 

Menurut pedoman Center for Disease Control (CDC), infeksi daerah operasi dikategorikan dalam kurun waktu 30 hari setelah operasi atau lebih ketika prosedur operasi tersebut menggunakan benda asing seperti prosthesis.

 

IDO dikategorikan superfisial jika hanya melibatkan kulit saja atau jaringan subkutan pada lokasi insisi, lebih dalam bila menyentuh struktur internal lapisan jaringan, organ dan intra-organ.

 

IDO diketahui disebabkan oleh terutama organisme bakteri gram positif yang merupakan flora normal pada kulit, dan berbagai bakteri yang mencemari tidak hanya jaringan di luka bedah tetapi juga bahan jahitan.

 

Telah dilaporkan bahwa jahitan perkutan yang mendekati tepi kulit sering dikolonisasi dari permukaan tubuh ke dalam jalur luka oleh bakteri Staphylococcus Epidermidis yang mampu menghasilkan matrik ekstraseluler amorf (biofilm), melindungi populasi mikroba dari faktor pertahanan host.

 

Menurut American Collage of Surgeons and Surgical Infection Society, infeksi daerah operasi umumnya menyumbang setidaknya 20% dari semua infeksi yang didapat di rumah sakit di Amerika Serikat.

 

Jika IDO sudah melebar atau mendalam, kondisinya akan semakin membahayakan. "Berbahaya kalau sudah mendalam, terutama apabila ada penggunaan implan. Infeksi pada kulit yang awalnya hanya di luar bisa menyebar ke implan. Kalau sudah infeksi ke implan, implannya harus diangkat. Itu hal yang paling repot," kata Spesialis bedah saraf sekaligus ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia (IKABI), Prof. Dr. dr Andi Asadul Islam, Sp.BS(K).

 

Beliau juga menambahkan bahwa IDO menyebabkan kematian tiga kali lipat lebih tinggi. Beban biaya juga menjadi lebih tinggi karena durasi rawat inap yang lebih lama dan diperlukannya intervensi medis tambahan seperti operasi ulang.

 

Untuk mengatasi IDO ini, Center for Disease Control (CDC) telah menguraikan banyak tindakan yang harus dipertimbangankan untuk mencegah IDO, dari homeostatic, seperti kontrol gula darah, oksigenasi, dan normotermia, hingga teknik khusus dalam metode penutupan luka.

 

Dapat dipahami bahwa jahitan bedah merupakan permukaan yang potensial untuk bakteri. Namun, pelapis anti bakteri yang saat ini banyak digunakan untuk jahitan, tidak begitu optimal dalam mencegah invasi bakteri ke dalam jaringan, dengan dasar bahwa lebih dari 50% bakteri resisten terhadap antibiotik.

 

Baca Juga:

Penelitian yang dilakukan oleh Daniela Vieira et.al pada tahun 2022 menemukan bahwa jahitan dengan menggunakan metode pelapisan nanopartikel logam, terbukti menjadi jalan baru dalam memerangi infeksi bakteri pada luka operasi. Juga, telah melalui uji resistensi bakteri yang jauh lebih baik dengan penggunaan triclosan dengan menggunakan penilaian biokompabilitas terhadap mamalia CHO, jahitan diuji dengan bakteri S. aureus dan P. aeruginosa.



Proses rekayasa jahitan PDS II yang dimodifikasi dan konfirmasi lapisan ganda melalui analisis SEM pada perbesaran rendah (200x) dan tinggi (10.000x).


Gambaran di atas mengilustrasikan proses kimia yang digunakan untuk memodifikasi jahitan dengan nanopartikel logam yang berbeda. Nanopartikel disuspensikan dalam cairan yang mengandung air dan asam askorbat dan campuran diaduk dengan batang vertikal yang terletak di tengah wadah untuk memfasilitasi kompresi Nanopartikel pada cairan di permukaan selama kurang lebih 6 jam. 


Transfer nanopartikel terbentuk pada permukaan cairan ke jahitan dengan pelapisan. Setelah deposisi, jahitan kering dicelupkan ke dalam larutan sutra fbroin untuk menyimpan lapisan polimer tipis. 


Perkembangan penelitian yang mengurai tentang dampak pengurangan insidensi infeksi daerah operasi dengan pengembangan beberapa jenis pelapis nanopartikel logam di antaranya Cu, CuO, TiO, ZnO, Fe2o3 dan MgO, memiliki efektivitas dalam memerangi bakteri penyebab infeksi.


Lapisan yang berbeda menunjukkan sitotoksisitas minimal dan kemampuan antibakteri progresif. Dua patogen palingumum yang terkait dengan infeksi daerah operasi, S. aureus dan P. aeruginosa, digunakan untuk menilai sifat antibakteri pelapis nanopartikel. 


Pelapisan Fe2O3 menunjukkan kemampuan yang paling baik untuk membunuh bakteri Gram-positif (85,20%±0,99) dan Gram-negatif (89,45±1,32) (pada hari ke 7), diikuti oleh Cu, CuO, ZnO, TiO dan MgO. Rendahnya efisiensi pelapisan MgO dapat dikaitkan dengan ukuran partikel atau aglomerasi. 


Telah dicatat bahwa ukuran partikel MgO yang besar dan/atau area aglomerasi yang luas menghambat interaksi dengan bakteri sehingga mengurangi efek antibakteri. Dengan ini hasil penelitian menunjukkan efek antibakteri secara langsung berkaitan dengan pelepasan ion logam dalam lapisan nanopartikel. 

 

Namun demikian, mempertahankan integritas dari jahitan pasca pembedahan adalah hal yang tak boleh ditinggalkan, jahitan yang ideal tidak boleh putus selama prosedur, serta memanjang sesuai kebutuhan jaringan. 


Teknik nanopartikel patut menjadi pertimbangan untuk pengembangan berbagai praktik jahitan bedah di masa depan, terutama untuk menekan angka infeksi daerah operasi.


Namun, sekali lagi teknik tersebut harus tetap pada prinsip yang telah ada seperti: merapatkan tepi-tepi kulit untuk mempercepat penyembuhan luka, merapikan atau memotong tepi-tepi kulit untuk meminimalkan tegangan pada kulit saat dijahit, menarik ringan bedang jahit, menjahit dengan jarak yang sama, dan yang terakhir menutup luka operasi dengan prinsip steril. 


Temukan berbagai informasi kedokteran terbaru di Artikel Sejawat Indonesia. Akses juga CME tentang Infeksi Daerah Operasi untuk mengetahui tatalaksana terbarunya atau ikuti Surgical Suture Workshop untuk mengetahui berbagai teknik Jahitan Bedah dalam operasi.


Penulis: Suci Sasmita, S.Ked.

Referensi


Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaJalan Panjang Guillain-Barre Syndrome (GBS)

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar