Foto yang Diambil dengan Smartphone, dapat Menyesatkan Dokter dan Membahayakan Pasien

Foto yang Diambil dengan Smartphone, dapat Menyesatkan Dokter dan Membahayakan Pasien

03 Mar 2026 80
SE
Sejawat Editorial

Berikut ini adalah skenario yang semakin umum di banyak perawatan kesehatan: Pasien mengisi formulir daring untuk meminta janji temu dengan dokter, kemudian muncul tautan yang meminta untuk mengunggah foto penyakit atau kondisi pasien. Beberapa klik dan foto pun terkirim untuk dinilai dan dipelajari oleh dokter.

Sebuah alur yang terkesan memudahkan. Namun, satu penelitian terbaru yang terbit di The Lancet Primary Care, akhir Februari lalu, menunjukkan bahwa kamera dan perangkat lunak ponsel pintar secara rutin mengubah gambar dengan cara yang dapat menyesatkan dokter, dan dalam beberapa kasus, membahayakan pasien karena kesalahan diagnosis.

Konsultasi jarak jauh kini menjadi hal rutin di banyak sistem kesehatan. Bukan lagi sebagai solusi sementara darurat pandemi, praktik umum semakin banyak ditawarkan secara "hibrida" , di mana pasien menerima perawatan dengan cara yang berbeda, sebagian secara langsung, dan sebagian besar secara jarak jauh.

Di seluruh Australia, Amerika Utara, dan sebagian Skandinavia, janji temu melalui video sudah umum. Di Inggris, pasien sering diminta untuk mengunggah foto melalui platform daring. Foto digunakan untuk mendiagnosis kondisi seperti eksim atau kutil, menilai respons terhadap pengobatan, dan menilai seberapa parah kondisi kesehatan seseorang yang menjadi dasar pengambilan keputusan tentang apakah, dan seberapa mendesak, mereka perlu diperiksa secara langsung.

Bagi banyak orang, ini adalah cara cepat dan nyaman untuk mendapatkan perawatan, mengurangi waktu perjalanan, dan menghindari waktu yang dihabiskan untuk menunggu panggilan dijawab atau berlama-lama di ruang tunggu dokter.

Insiden keselamatan dalam konsultasi jarak jauh masih relatif jarang terjadi. Namun, penelitian sebelumnya dari tim yang sama dengan penelitian tersebut menunjukkan bahwa dokter terkadang melewatkan tanda-tanda klinis penting yang menyebabkan kesalahan diagnosis atau keterlambatan perawatan. Contohnya termasuk salah mengira lesi kulit ganas sebagai sesuatu yang jinak, atau gagal mengenali perubahan warna, seperti penyakit kuning atau warna kebiruan akibat kadar oksigen rendah (sianosis).

Para dokter sering menyalahkan diri sendiri ketika hal tersebut terjadi. Namun dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada faktor lain yang berperan: Pemrosesan dan kompresi gambar otomatis pada ponsel pintar dapat mendistorsi informasi visual yang penting secara klinis. Sinyal warna bergeser. Detail halus menghilang. Perubahan halus pada kulit menjadi lebih sulit dideteksi.

Dengan kata lain, ini bukan hanya kesalahan manusia. Ini adalah kesalahan teknologi.


BACA JUGA: 


Ponsel pintar dirancang untuk membuat foto terlihat bagus, bukan untuk menjaga keakuratan medis. Ponsel pintar secara otomatis menyesuaikan pencahayaan, menyeimbangkan warna, mempertajam tepi, dan mengompres file. Fitur-fitur ini sempurna untuk media sosial, tetapi bermasalah untuk perawatan kesehatan.

Kondisi pencahayaan di rumah pasien menambah lapisan ketidakpastian. Begitu pula dengan kualitas layar di tempat praktik dokter. Pengaturan mode malam, tampilan berkualitas buruk, dan kalibrasi yang buruk dapat mengubah tampilan gambar. Secara bersamaan, faktor-faktor ini dapat membuat pasien terlihat lebih sehat daripada yang sebenarnya, meratakan ruam, mengurangi pembengkakan, atau mengubah warna lesi.

Beberapa pasien sangat rentan. Kita sudah tahu bahwa beberapa alat medis, seperti oksimeter denyut nadi, kurang akurat dalam mendeteksi pada orang dengan kulit lebih gelap. Distorsi gambar berisiko memperburuk ketimpangan tersebut karena pasien dengan kulit lebih gelap lebih mungkin mengalami temuan klinis yang terlewatkan.

Kasus lain di mana temuan mungkin terlewatkan adalah ketika temuan klinis bersifat samar, atau ketika filter berbasis AI digunakan. Orang-orang dengan literasi digital yang rendah, atau mereka yang kesulitan mengkomunikasikan gejala mereka dengan jelas, juga berisiko lebih besar ketika sesuatu terlewatkan.

Jadi, apa yang bisa dilakukan?

Untuk pasien, ada beberapa langkah sederhana yang dapat membantu. Matikan filter, gunakan pencahayaan yang baik, sebisa mungkin cahaya alami. Periksa apakah foto tersebut sesuai dengan apa yang terlihat sebelum mengirimkannya. Sertakan deskripsi tertulis di samping gambar. Dan jika dokter tampak melihat sesuatu yang berbeda, sampaikanlah.

Tim medis juga perlu menyadari keterbatasan gambar yang dihasilkan pasien. Itu berarti perlu memeriksa kembali apa yang terlihat baik-baik saja dan jika ragu, aturlah pemeriksaan langsung. Monitor yang digunakan harus cukup besar dan berkualitas memadai. Pengaturan mode malam harus dimatikan. Ketidakpastian gambar harus diperlakukan seperti ketidakpastian klinis lainnya.

Namun, apakah adil menyerahkan semua ini kepada pasien dan tim medis yang sudah kewalahan? Ada alasan kuat untuk perubahan yang lebih luas. Ponsel pintar dapat menyertakan mode perawatan kesehatan khusus yang menonaktifkan filter dan memperingatkan pengguna ketika kualitas gambar terlalu buruk untuk pengambilan keputusan klinis. Platform video dan sistem unggah dapat menandai pencahayaan yang tidak memadai, resolusi rendah, atau kompresi berlebihan sebelum gambar dikirim.

Seiring konsultasi digital semakin terintegrasi dalam perawatan sehari-hari, kualitas gambar perlu diperlakukan sebagai bagian dari infrastruktur keselamatan pasien, bukan hanya detail teknis. Ponsel pintar dibuat untuk membuat kita terlihat baik. Kedokteran membutuhkan sesuatu yang berbeda: akurasi.

Jika layanan kesehatan akan bergantung pada kamera ponsel pintar untuk pengambilan keputusan klinis, cara kamera tersebut dirancang, diatur, dan digunakan mungkin perlu dipertimbangkan kembali. Karena kenyamanan seharusnya tidak pernah mengorbankan kualitas perawatan.


Referensi:

  • How a lack of visual fidelity in patient-generated images risks compromising care. Payne, Rebecca et al. The Lancet Primary Care, Volume 0, Issue 0, 100120
  • Payne R, Clarke A, Swann N, et alPatient safety in remote primary care encounters: multimethod qualitative study combining Safety I and Safety II analysisBMJ Quality & Safety 2024;33:573-586.
DiagnosisTelemedicineTelehealthKonsultasi OnlineKulitSmartphoneLesi

Webinar Mendatang

CME Populer

Artikel Pilihan

Kategori

Artikel Populer

Loading popular articles...