Intermittent Fasting dan Depresi: Evidence-Based Updates dari Nutritional Psychiatry

Intermittent Fasting dan Depresi: Evidence-Based Updates dari Nutritional Psychiatry

Dalam beberapa dekade terakhir, pendekatan terhadap depresi telah berkembang melampaui model neurotransmiter klasik. Terdapat banyak bukti yang semakin kuat menunjukkan bahwa depresi merupakan kondisi sistemik yang melibatkan interaksi kompleks antara faktor neurobiologis, metabolik, imunologis, dan respons stres. Sejalan dengan perkembangan tersebut, bidang nutritional psychiatry muncul dan berkembang pesat—terutama di Eropa dan Amerika Utara—dengan fokus pada peran nutrisi dan pola makan terhadap kesehatan mental.

Salah satu pendekatan yang mendapat perhatian luas adalah Intermittent Fasting (IF), yaitu pola makan yang mengatur waktu asupan makanan dengan periode puasa dengan terencana. Awalnya IF banyak diteliti dalam konteks kesehatan metabolik seperti pada pasien dengan Diabetes Melitus dan juga dalam berbagai studi mengenai penuaan, IF kini dievaluasi sebagai intervensi gaya hidup yang berpotensi memodulasi gejala gangguan mental, termasuk depresi. Artikel ini menyajikan ringkasan berbasis bukti mengenai rasional biologis, temuan penelitian utama, serta posisi IF dalam praktik klinis kontemporer.

Nutritional Psychiatry

Nutritional psychiatry merepresentasikan pergeseran penting dari pendekatan yang semata-mata berfokus pada gejala menuju pemahaman biologis yang lebih integratif dan sistemik. Dalam kerangka ini, kesehatan mental dipandang sebagai hasil interaksi dinamis antara otak, metabolisme, sistem imun, dan lingkungan. Sejumlah studi epidemiologis berskala besar secara konsisten menunjukkan bahwa pola diet berkualitas rendah—ditandai dengan asupan tinggi makanan ultra-proses, gula sederhana, dan lemak jenuh—berkorelasi dengan peningkatan risiko depresi. Sebaliknya, pola makan yang kaya serat, asam lemak tak jenuh, antioksidan, dan mikronutrien esensial, seperti diet Mediterania, dikaitkan dengan penurunan insidensi depresi serta perbaikan gejala pada individu yang telah terdiagnosis. Temuan ini memperkuat hipotesis bahwa nutrisi bukan sekadar faktor gaya hidup pasif, melainkan determinan biologis aktif dalam kesehatan mental.

Perkembangan selanjutnya dalam bidang ini menunjukkan bahwa pengaruh nutrisi terhadap otak tidak hanya ditentukan oleh apa yang dikonsumsi oleh seseorang, tetapi juga kapan konsumsi tersebut terjadi. Fokus riset terkini mulai bergeser ke peran timing asupan makanan sebagai regulator penting dari homeostasis biologis. Waktu makan berinteraksi erat dengan ritme sirkadian yang mengatur ekspresi gen, metabolisme energi, sekresi hormon, serta respons imun. Disrupsi ritme sirkadian—yang umum terjadi pada individu dengan depresi—dikaitkan dengan gangguan metabolisme glukosa, peningkatan inflamasi, dan perubahan regulasi emosi. Oleh karena itu, intervensi yang mampu menyelaraskan kembali ritme biologis menjadi area yang semakin diminati dalam penelitian kesehatan mental.

Dalam konteks ini, IF muncul sebagai pendekatan yang menarik karena secara simultan memengaruhi beberapa sistem biologis yang relevan dengan patofisiologi depresi. Dengan mengatur periode makan dan puasa, IF berpotensi memodulasi ritme sirkadian, meningkatkan fleksibilitas metabolik, memperbaiki sensitivitas insulin, serta menurunkan inflamasi derajat rendah. Pendekatan ini selaras dengan paradigma nutritional psychiatry moderen, yang tidak lagi memandang nutrisi sebagai intervensi tunggal, melainkan sebagai bagian dari jaringan regulasi biologis yang lebih luas. Meskipun bukti klinis spesifik masih berkembang, IF saat ini semakin mendapat perhatian sebagai strategi gaya hidup yang berpotensi relevan dalam pencegahan dan penatalaksanaan depresi.

Apa Itu Intermitten Fasting?

Intermittent fasting bukan diet spesifik, melainkan pola makan berbasis waktu. Protokol yang paling sering digunakan meliputi:

•Time-restricted eating  (TRE) , misalnya 16:8 atau 14:10 

•Alternate day fasting  (ADF) , puasa selama 24 jam dengan selang waktu satu hari

•Pola 5:2 , dengan pembatasan kalori pada dua hari yang tidak berurutan 

Dalam praktiknya, TRE selama 14–16 jam lamanya merupakan bentuk IF yang paling banyak diterapkan karena relatif mudah dan aman pada populasi dewasa sehat. Penting ditekankan bahwa IF tidak secara inheren menjamin kualitas diet seseorang; manfaat optimal diperoleh bila dikombinasikan dengan asupan nutrisi yang adekuat dan seimbang.

Depresi sebagai Gangguan Sistemik

Walaupun teori neurotransmitter monoamine selama ini mendominasi pandangan terhadap terjadinya gangguan mental seperti depresi, namun pemahaman modern yang berpusat pada neurobiologi memandang depresi sebagai kondisi yang melibatkan beberapa jalur biologis utama, antara lain:

•Disfungsi mitokondria , yang berdampak pada produksi energi neuron 

•Inflamasi derajat rendah kronik , ditandai peningkatan sitokin proinflamasi 

•Gangguan neuroplastisitas , termasuk penurunan  brain-derived neurotrophic factor  (BDNF) 

•Disregulasi respons stres , khususnya pada aksis hipotalamus–pituitari–adrenal 

IF menarik perhatian karena memiliki efek pada seluruh jalur ini.

Mekanisme Biologis IF yang Relevan dengan Depresi

1. Metabolic Switching dan Fungsi Mitokondria

Selama periode puasa, tubuh manusia beralih dari penggunaan glukosa ke badan keton sebagai sumber energi utama (metabolic switching). Badan keton meningkatkan efisiensi energi neuron, menurunkan stres oksidatif, dan memperbaiki fungsi mitokondria (Anton et al., 2018; de Cabo & Mattson, 2019). Disfungsi mitokondria telah dilaporkan secara konsisten pada pasien dengan depresi dan gangguan mood lainnya, menjadikan jalur ini relevan secara patofisiologis (Morris et al., 2018).

2. Inflamasi dan Imunometabolik

Sekitar 30–40% individu dengan depresi menunjukkan adanya peningkatan berbagai penanda inflamasi sistemik. Studi pada populasi non-psikiatri melaporkan bahwa IF dapat menurunkan beberapa sitokin proinflamasi, sekaligus memperbaiki sensitivitas insulin (Tinsley & La Bounty, 2015). Temuan ini mendukung potensi IF sebagai pendekatan pendukung pada subtipe depresi dengan komponen inflamasi dominan.

3. Neuroplastisitas dan Brain Derived Neurotrophic Factor (BDNF)

BDNF berperan penting dalam plastisitas sinaptik, neurogenesis, dan adaptasi terhadap stres. Model hewan menunjukkan bahwa puasa intermiten dan restriksi kalori meningkatkan ekspresi BDNF, terutama di area hippocampus (Lee et al., 2002). Jalur ini sejalan dengan mekanisme kerja berbagai antidepresan, meskipun bukti klinis langsung pada manusia masih terbatas.

4. Hormesis dan Regulasi Respons Stres

IF dipandang sebagai stresor ringan terkontrol (hormetic stress) yang memicu respons adaptif, seperti peningkatan autofagi, kapasitas antioksidan, dan fleksibilitas metabolik (Mattson, 2008). Dalam konteks depresi—di mana respons stres sering kali maladaptif—mekanisme ini berpotensi membantu menormalkan kembali regulasi stres jangka panjang.

Bukti Klinis: Status Terkini

Hingga saat ini, sebagian besar bukti mengenai hubungan antara IF dan kesehatan mental masih berasal dari studi preklinik, studi observasional, serta uji klinis berskala kecil dengan desain heterogen. Model hewan secara konsisten menunjukkan bahwa protokol puasa intermiten dapat memperbaiki perilaku terkait stres dan depresi, disertai perubahan biologis yang relevan seperti peningkatan neuroplastisitas, penurunan inflamasi, dan perbaikan fungsi mitokondria. Pada manusia, studi observasional dan intervensi non-acak melaporkan adanya perbaikan suasana hati, tingkat energi, kualitas tidur, dan kualitas hidup secara umum, terutama pada individu yang mengalami perbaikan kesehatan metabolik selama menjalani IF. Temuan ini menunjukkan bahwa efek psikologis IF kemungkinan dimediasi, setidaknya sebagian, oleh perubahan metabolik dan sistemik. Namun demikian, interpretasi temuan-temuan tersebut memerlukan kehati-hatian. Banyak studi klinis yang tersedia memiliki keterbatasan metodologis, termasuk ukuran sampel kecil, durasi intervensi yang singkat, variasi protokol IF, serta penggunaan luaran psikologis yang bersifat sekunder. 

Selain itu, heterogenitas populasi—baik dari segi status kesehatan mental, komorbid metabolik, maupun konteks gaya hidup—menyulitkan generalisasi hasil. Hingga saat ini, belum tersedia uji klinis acak terkontrol berskala besar yang secara spesifik mengevaluasi efektivitas IF sebagai terapi depresi dengan luaran klinis utama berupa perbaikan gejala afektif. Dengan mempertimbangkan keterbatasan tersebut, posisi IF dalam praktik klinis saat ini lebih tepat dipahami sebagai intervensi gaya hidup komplementer, bukan terapi utama depresi. Rasional biologis yang mendasari IF—meliputi modulasi metabolisme energi, inflamasi, neuroplastisitas, dan respons stres—memberikan dasar yang kuat untuk eksplorasi lebih lanjut. Namun, sebelum IF dapat diintegrasikan secara luas ke dalam panduan klinis, diperlukan penelitian longitudinal dan uji klinis terkontrol yang mampu mengidentifikasi populasi yang paling diuntungkan, menentukan protokol yang optimal, serta menilai keamanan dan keberlanjutan jangka panjang pada pasien dengan gangguan mood.

Implikasi Klinis Lintas Disiplin

Dalam praktik klinis lintas spesialisasi, IF dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari pendekatan gaya hidup sehat, khususnya pada individu dengan depresi ringan–sedang yang stabil. Pendekatan ini:

  • Tidak menggantikan farmakoterapi atau psikoterapi berbasis bukti 
  • Memerlukan seleksi individu yang tepat, terutama menghindari pasien dengan riwayat gangguan makan, depresi berat, risiko bunuh diri, kehamilan, atau komorbid medis tertentu 
  • Idealnya diterapkan dalam kerangka  shared decision-making  dan pemantauan klinis berkelanjutan 

Diskusi mengenai IF dapat menjadi sarana edukasi yang konstruktif mengenai hubungan antara metabolisme dan kesehatan mental.

Kesimpulan

Intermittent fasting mencerminkan arah baru dalam nutritional psychiatry dan memperluas pemahaman mengenai hubungan antara pola makan, metabolisme, dan kesehatan mental. Dengan memengaruhi fungsi mitokondria, inflamasi, neuroplastisitas, dan respons stres, IF menawarkan rasional biologis yang kuat sebagai intervensi gaya hidup pendukung pada depresi. Meskipun bukti klinis spesifik masih berkembang, pemahaman ini relevan bagi klinisi lintas disiplin sebagai dasar diskusi edukatif dan integrasi pendekatan holistik yang tetap berpijak pada prinsip evidence-based medicine


Referensi

  • Anton, S. D., Moehl, K., Donahoo, W. T., Marosi, K., Lee, S. A., Mainous, A. G., Leeuwenburgh, C., & Mattson, M. P. (2018). Flipping the Metabolic Switch: Understanding and Applying the Health Benefits of Fasting. Obesity (Silver Spring, Md.), 26(2), 254–268. https://doi.org/10.1002/oby.22065
  • Berk, M., Williams, L. J., Jacka, F. N., O’Neil, A., Pasco, J. A., Moylan, S., Allen, N. B., Stuart, A. L., Hayley, A. C., Byrne, M. L., & Maes, M. (2013). So depression is an inflammatory disease, but where does the inflammation come from? BMC Medicine, 11, 200. https://doi.org/10.1186/1741-7015-11-200
  • de Cabo, R., & Mattson, M. P. (2019). Effects of Intermittent Fasting on Health, Aging, and Disease. The New England Journal of Medicine, 381(26), 2541–2551. https://doi.org/10.1056/NEJMra1905136
  • Firth, J., Marx, W., Dash, S., Carney, R., Teasdale, S. B., Solmi, M., Stubbs, B., Schuch, F. B., Carvalho, A. F., Jacka, F., & Sarris, J. (2019). The Effects of Dietary Improvement on Symptoms of Depression and Anxiety: A Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials. Psychosomatic Medicine, 81(3), 265–280. https://doi.org/10.1097/PSY.0000000000000673
  • Giménez-Palomo, A., Andreu, H., de Juan, O., Olivier, L., Ochandiano, I., Ilzarbe, L., Valentí, M., Stoppa, A., Llach, C.-D., Pacenza, G., Andreazza, A. C., Berk, M., Vieta, E., & Pacchiarotti, I. (2024). Mitochondrial Dysfunction as a Biomarker of Illness State in Bipolar Disorder: A Critical Review. Brain Sciences, 14(12), 1199. https://doi.org/10.3390/brainsci14121199
  • Jacka, F. N., O’Neil, A., Opie, R., Itsiopoulos, C., Cotton, S., Mohebbi, M., Castle, D., Dash, S., Mihalopoulos, C., Chatterton, M. L., Brazionis, L., Dean, O. M., Hodge, A. M., & Berk, M. (2017). A randomised controlled trial of dietary improvement for adults with major depression (the “SMILES” trial). BMC Medicine, 15(1), 23. https://doi.org/10.1186/s12916-017-0791-y
  • Lee, J., Duan, W., & Mattson, M. P. (2002). Evidence that brain-derived neurotrophic factor is required for basal neurogenesis and mediates, in part, the enhancement of neurogenesis by dietary restriction in the hippocampus of adult mice. Journal of Neurochemistry, 82(6), 1367–1375. https://doi.org/10.1046/j.1471-4159.2002.01085.x
  • Mattson, M. P. (2008). Hormesis defined. Ageing Research Reviews, 7(1), 1–7. https://doi.org/10.1016/j.arr.2007.08.007
  • Mattson, M. P., Longo, V. D., & Harvie, M. (2017). Impact of intermittent fasting on health and disease processes. Ageing Research Reviews, 39, 46–58. https://doi.org/10.1016/j.arr.2016.10.005
  • O’Neil, A., Jacka, F. N., Quirk, S. E., Cocker, F., Taylor, C. B., Oldenburg, B., & Berk, M. (2015). A shared framework for the common mental disorders and Non-Communicable Disease: Key considerations for disease prevention and control. BMC Psychiatry, 15, 15. https://doi.org/10.1186/s12888-015-0394-0
  • Tinsley, G. M., & La Bounty, P. M. (2015). Effects of intermittent fasting on body composition and clinical health markers in humans. Nutrition Reviews, 73(10), 661–674. https://doi.org/10.1093/nutrit/nuv041
  • Valles-Colomer, M., Falony, G., Darzi, Y., Tigchelaar, E. F., Wang, J., Tito, R. Y., Schiweck, C., Kurilshikov, A., Joossens, M., Wijmenga, C., Claes, S., Van Oudenhove, L., Zhernakova, A., Vieira-Silva, S., & Raes, J. (2019). The neuroactive potential of the human gut microbiota in quality of life and depression. Nature Microbiology, 4(4), 623–632. https://doi.org/10.1038/s41564-018-0337-x
gizinutrisidietpsikiatriDepresiPuasametabolismeintermittent fasting

Webinar Mendatang

CME Populer

Artikel Pilihan

Kategori

Artikel Populer

Loading popular articles...