Swamedikasi, Asam Mefenamat, dan Peran Apoteker

Swamedikasi, Asam Mefenamat, dan Peran Apoteker

16 Sep 2025 240
SE
Sejawat Editorial

Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional Indonesia merilis data di mana sebanyak 79,74% - 84,23% masyarakat Indonesia melakukan pengobatan sendiri atau swamedikasi (self medication) selama tahun 2021-2023. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2023 menunjukkan bahwa sebanyak 79,74% masyarakat Indonesia melakukan pengobatan sendiri atau swamedikasi. 

Menurut World Health Organization (WHO), swamedikasi merupakan tindakan memilih dan menggunakan obat modern, obat herbal, atau obat tradisional oleh diri sendiri untuk mengurangi atau mengatasi suatu penyakit atau gejala penyakit.

Salah satu tipe obat yang sering digunakan dalam swamedikasi adalah Analgesik atau pereda nyeri, obat yang paling sering dikonsumsi dari tipe tersebut adalah Mefenamic Acid atau Asam Mefenamat. 

(Sumber: Go Apotik)

Asam Mefenamat adalah salah salah satu obat yang diklasifikasi sebagai obat keras, sehingga perlu resep dokter untuk mengonsumsinya secara aman. Namun, meskipun begitu, ia justru sangat mudah didapatkan di toko obat atau apotek, dengan atau tanpa resep dokter.

Kemudahan akses terhadap obat tersebut, ditambah dengan kurangnya pengawasan dan edukasi, menimbulkan berbagai masalah terkait penggunaan asam mefenamat. Banyak orang mengonsumsinya tanpa pengetahuan yang memadai tentang indikasi, dosis, durasi penggunaan, dan efek samping yang mungkin ditimbulkan. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko efek samping, seperti gangguan gastrointestinal, reaksi alergi, bahkan gangguan fungsi ginjal dan hati jika digunakan dalam jangka panjang atau tidak sesuai aturan. 

Pengetahuan masyarakat tentang penggunaan obat sangat menentukan dalam mencegah risiko penggunaan obat yang tidak rasional. Penggunaan obat yang rasional adalah penggunaan obat yang tepat indikasi, tepat dosis, tepat pasien, serta tepat cara dan durasi pemberian. 

Satu penelitian yang dilakukan tahun ini, mengungkap tingkat pengetahuan masyarakat terkait Asam mefenamat. Hasilnya, level pengetahuan ‘Cukup’ memiliki persentase tertinggi, yaitu 47,95%. Itu Menunjukkan bahwa hampir separuh responden memiliki tingkat pemahaman sedang tentang penggunaan, manfaat, dan risiko asam mefenamat yang tepat. Dalam arti yang lain bahwa kesadaran masyarakat sudah ada, tetapi mungkin belum komprehensif. Pengetahuan di level Baik/Sangat Baik berada di urutan berikutnya, yaitu 31,51%, menunjukkan bahwa sekitar sepertiga responden memiliki informasi yang baik dan cenderung memahami dosis, indikasi, efek samping, dan tindakan pencegahan yang tepat. Pengetahuan ‘Kurang’ mencapai 16,44% responden. Mereka mungkin pernah mendengar tentang obat tersebut, tetapi memiliki pengetahuan terbatas tentang keamanan dan efektivitas penggunaannya. Mereka yang ‘Tidak Tahu’ merupakan kelompok terkecil, yaitu 4,11% yang menunjukkan bahwa hanya sedikit responden yang tidak familiar dengan obat tersebut. 

Secara keseluruhan, grafik menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar populasi memiliki pengetahuan cukup hingga baik tentang asam mefenamat, masih terdapat persentase yang signifikan (lebih dari 20%) responden dengan pemahaman terbatas atau bahkan tidak ada sama sekali. Fakta tersebut menambah perlunya peningkatan upaya edukasi dan penjangkauan masyarakat untuk memastikan penggunaan obat bebas seperti asam mefenamat secara rasional dan aman.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengetahuan Masyarakat tentang Asam Mefenamat

Terdapat setengah dari responden berada dalam kategori “pengetahuan cukup” yang juga menyiratkan bahwa pemahaman mereka sedang dan mungkin kurang mendalam atau detail dan kritis. Meskipun pengetahuan sedang lebih baik daripada pengetahuan rendah atau tidak sama sekali, hal ini tetap menandakan adanya potensi yang cukup besar untuk meningkatkan pemahaman mereka. 

Kelompok menengah tersebut mungkin paling diuntungkan dari program pendidikan yang terarah untuk memperdalam pengetahuan mereka dan mengatasi kesalahpahaman atau kesenjangan pemahaman. Misalnya, kampanye pendidikan, lokakarya, atau materi informasi yang berfokus pada pengembangan konsep-konsep kunci dan aplikasi praktis dapat secara efektif meningkatkan pengetahuan mereka dari sedang menjadi baik atau sangat baik. 

Hal yang lebih memprihatinkan adalah keberadaan responden dengan pengetahuan yang buruk atau bahkan tidak sama sekali tentang topik tersebut yang secara kolektif mencakup sekitar 20,5% dari sampel. Segmen responden tersebut mewakili minoritas signifikan yang mungkin berisiko membuat keputusan tanpa informasi atau terlibat dalam perilaku yang dapat merugikan karena kurangnya kesadaran. 

Pemahaman mereka yang terbatas mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk akses yang tidak memadai terhadap sumber daya pendidikan, kendala sosial ekonomi, kurangnya minat atau motivasi, atau strategi komunikasi yang tidak efektif.

Pendidik atau penyedia layanan kesehatan. Mengidentifikasi dan memahami hambatan yang dihadapi kelompok ini sangat penting untuk merancang intervensi yang efektif. Ketimpangan tingkat pengetahuan di antara responden menggarisbawahi pentingnya menyesuaikan upaya pendidikan untuk memenuhi beragam kebutuhan. 

Pendekatan yang seragam mungkin tidak memadai, karena kesenjangan pengetahuan menunjukkan perbedaan tingkat kesadaran dan preferensi belajar dasar. Strategi khusus yang mempertimbangkan faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, dan pekerjaan dapat membantu memastikan pesan pendidikan relevan dan menarik bagi berbagai subkelompok. Misalnya, responden yang lebih muda atau mereka yang masih sekolah mungkin merespons dengan baik perangkat pembelajaran digital dan kampanye media sosial. Sebaliknya, kelompok yang lebih tua atau non-pekerja mungkin mendapat manfaat dari program penjangkauan berbasis masyarakat.

Peran Apoteker dalam Swamedikasi Nyeri

Apoteker sebagai fasilitator dalam praktik swamedikasi harus memiliki kompetensi terhadap pemilihan obat, dan pemberian informasi obat yang sesuai dengan kondisi nyeri pasien untuk mencapai tujuan terapi yang diinginkan dan mengurangi kesalahan penggunaan obat.

Apoteker memiliki kompetensi untuk membantu pasien dalam menentukan pilihan obat yang sesuai dengan gejala atau kondisi yang dialami pasien. Tahapan yang dibutuhkan untuk membantu masyarakat yang ingin melakukan swamedikasi adalah penggalian informasi terkait pasien dan edukasi terkait obat dan saran terapi non farmakologi. Penggalian informasi meliputi gejala yang dirasakan, berapa lama kondisi tersebut dirasakan, dan riwayat obat-obatan yang dikonsumsi atau riwayat penyakit pasien.

Edukasi meliputi informasi terkait obat dan kondisi yang harus diperhatikan atau menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter apabila kondisinya tidak membaik, sehingga tercapai tujuan pengobatan yaitu tercapainya keberhasilan terapi. Kepuasan pasien pada pengobatan, dihasilkan dari faktor-faktor seperti efektivitas, kenyamanan (misalnya rute pemberian dan frekuensi pemberian), atau efek samping pengobatan. 

Kepuasan terhadap pengobatan dikaitkan dengan kepatuhan yang lebih baik sehingga menghasilkan hasil terapi yang baik dan salah satu faktor penting mencapai keberhasilan tersebut adalah kemampuan melakukan edukasi terkait obat kepada pasien.


Referensi:
  • Hasyim, M. and Patandung, G. (2025) “Level of public knowledge on the use of mefenamic acid painkillers”, Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 14(1), pp. 106-113. doi: 10.35816/jiskh.v14i1.1256.
  • Vita Angraini, Ria Etikasari, & Muhammad Khudzaifi. (2025). Hubungan Pemberian Edukasi Swamedikasi Obat Antinyeri dengan Kepuasan Pasien di Apotek Blunyah Farma. Nusantara Hasana Journal, 5(3), 10–19. https://doi.org/10.59003/nhj.v5i3.1617
  • Luh Susianti, Fitria Megawati, Ketut Agus Adriantaa. Tingkat Pengetahuan dan Sikap Pasien terhadap Swamedikasi Pemilihan Obat Tradisional dan Konvensional di Apotek Dharma Medika Badung. Vol 3 No 1 (2024): Usadha: Jurnal Integrasi Obat Tradisional. https://doi.org/10.36733/usadha.v3i1.7220 
PasienObatNyeriEdukasiFarmasiAsam MefenamatApotekerSwamedikasiApotek

Webinar Mendatang

CME Populer

Artikel Pilihan

Kategori

Artikel Populer

Loading popular articles...