sejawat indonesia

Jutaan Anak Meninggal Tiap Tahun Akibat Pencemaran Lingkungan

WHO melaporkan terdapat 1,7 juta anak di bawah usia lima tahun yang meninggal tiap tahunnya akibat risiko lingkungan seperti polusi udara dalam ruangan dan di luar ruangan, perokok pasif, air yang tidak aman, kurangnya sanitasi, dan kebersihan yang tidak adekuat. “Sebuah lingkungan yang tercemar adalah mematikan–terutama terhadap anak-anak” kata Dr. Margaret Chan, Direktur Jenderal WHO dalam sebuah rilis berita. “Organ-organ dan sistem imun yang sedang berkembang, serta saluran pernapasan dan tubuh mereka yang lebih kecil, membuat mereka lebih rentan terhadap udara dan air yang kotor”. Pada laporan WHO, infeksi saluran napas bawah termasuk di dalam penyebab kematian terbanyak pada anak, memberi kontribusi sebanyak 16.5% kematian pada anak-anak di bawah usia lima tahun pada tahun 2012 dan 15,5% kematian pada 2015. Risiko lingkungan yang terbesar adalah polusi udara rumah tangga dari paparan asap alat masak, polusi udara dari lingkungan dan menjadi perokok pasif. Selain itu, semua risiko di atas dapat juga menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas seperti faringitis, laringitis, sinusitis, atau otitis media. Anak-anak di seluruh dunia telah terpapar efek berbahaya polusi udara. Sebanyak 92% dari populasi global, termasuk miliaran anak-anak, hidup di daerah dengan polusi udara yang melebihi batasan normal dari WHO. Lebih dari tiga miliar orang terpapar oleh polusi udara rumah tangga dari penggunaan bahan bakar padat. Polusi udara menyebabkan paling tidak 600.000 jumlah kematian pada anak di bawah usia lima tahun setiap tahunnya dan meningkatkan risiko infeksi pernapasan, asma, kondisi neonatal yang merugikan dan kelainan kongenital. Polusi udara menyumbang 50% dari total beban penyakit yang diakibatkan oleh pneumonia, yang adalah salah satu penyebab utama dari mortalitas anak di dunia. Bukti-bukti terbaru menunjukkan bahwa polusi udara merugikan perkembangan kognitif pada anak-anak dan paparan dini dapat mengakibatkan perkembangan penyakit kronik pada saat dewasa. Sanitasi dan air minum yang tidak layak juga berkontribusi terhadap kematian anak di bawah usia lima tahun, dengan jumlah kematian mencapai 361.000 anak tiap tahunnya hanya akibat diare saja. Selain itu, diperkirakan terdapat 270.000 orang anak-anak yang meninggal pada bulan pertama kehidupannya akibat kondisi-kondisi seperti prematuritas, yang dapat dicegah dengan akses terhadap air bersih, sanitasi, dan kebersihan pada fasilitas kesehatan. Namun bukan hanya polusi udara dan sanitasi yang buruk saja yang menjadi permasalahan yang mengancam kesehatan anak di dunia. Ancaman lingkungan seperti sampah elektronik, contohnya, telepon genggam bekas yang tidak didaur ulang dengan benar memberi paparan racun terhadap anak yang dapat mengakibatkan intelegensia yang menurun, defisit atensi, kerusakan paru-paru, dan kanker. Diperkirakan terdapat 20-25 juta ton sampah elektronik di seluruh dunia, dengan kebanyakan dari sampah tersebut dikirim ke negara-negara berkembang di Asia Timur. Dengan adanya Sustainable Development Goals (SDGs), WHO sedang berusaha untuk membuat intervensi terhadap kesehatan lingkungan pada anak dan untuk mengakhiri kematian yang dapat dicegah pada bayi baru lahir dan anak-anak di bawah usia lima tahun pada tahun 2030. WHO merilis daftar cara-cara yang dapat ditempuh oleh pemerintah untuk dapat memperbaiki kesehatan anak-anak, mulai dari menyediakan sekolah-sekolah dengan air minum yang aman dan higienis, sampai dengan memasukkan taman-taman sebagai perencanaan tata kota.  
Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaKonsumsi Produk Bebas Gluten Dihubungkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes Tipe II

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar