sejawat indonesia

Lebih Dekat dengan Sarkopenia: Permasalahan Populasi Geriatri

Seiring waktu, pertambahan usia dan penuaan seringkali diiringi kondisi yang memengaruhi seseorang. Salah satunya adalah Sarkopenia. Salah satu permasalahan yang lazim terjadi di populasi geriatri atau berusia lanjut yang sedang menjalani proses mempertahankan kemampuan fungsional yang memungkinkan kesejahteraan di usia tua.

Kemampuan fungsional terdiri dari kapasitas intrinsik individu (gabungan dari semua kapasitas fisik dan mental), karakteristik lingkungan yang relevan dan interaksi di antara keduanya, yang disebut proses penuaan. Sarkopenia mengarah pada kondisi hilangnya massa otot rangka dan fungsi fisik termasuk kekuatan otot dan kinerja fisik, yang terjadi secara bertahap seiring bertambahnya usia.

Dengan berkurangnya kekuatan otot, kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari akan menurun dan tingkat ketergantungan juga akan meningkat. Berbagai permasalahan baru tentu dapat muncul memengaruhi kualitas hidup populasi geriatri dengan sarkopenia termasuk kecacatan fisik, penurunan kualitas hidup, dan peningkatan risiko kematian. Sarkopenia merupakan prediktor utama pada kondisi kelemahan, patah tulang pinggul, kecacatan, dan kematian pada orang lanjut usia.

Selain itu, besarnya biaya perawatan kesehatan yang diperkirakan untuk kondisi sarkopenia juga akan menjadi masalah baru.

Epidemiologi 

Telah diketahui terdapat hingga 10% angka kejadian sarkopenia di seluruh dunia pada pasien berusia di atas 60 tahun. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa angka kejadian sarkopenia di Indonesia cukup besar yaitu berkisar 9,1% hingga 59%.

Pada tahun 2020, terdapat 9,92% atau sekitar 26,82 juta penduduk berusia lanjut di Indonesia dan di tahun 2045 jumlahnya diperkirakan mencapai hingga seperlima dari total penduduk Indonesia.

Definisi

Istilah "sarkopenia" berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata "sarx" yang berarti otot dan "penia" yang berarti kehilangan. Istilah tersebut pertama kali dipopulerkan pada tahun 1989 oleh Rosenberg untuk menggambarkan suatu kondisi kehilangan massa otot di usia lanjut.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya sarkopenia masih belum memiliki definisi klinis tetap yang dapat diterima secara general baik dalam kriteria diagnostik konsensus, kode International Classification of Diseases 9th Revision (ICD-9) atau pedoman pengobatan.

Tiga makalah konsensus yang telah menerbitkan definisi sarkopenia secara tertulis di bawah the European Working Group on Sarcopenia in Older People (EWGSOP), the European Society for Clinical Nutrition and Metabolism Special Interest Groups (ESPEN-SIG) dan the International Working Group on Sarcopenia (IWGS) menyampaikan bawah definisi sarkopenia yaitu:

  1. Adanya massa otot rangka yang rendah dan kekuatan otot yang rendah contoh berpegangan tangan atau kinerja otot yang rendah seperti kecepatan berjalan atau kekuatan otot. Ketika ketiga kondisi tersebut ada, diagnosis sarkopenia berat dapat ditegakkan. (EWGSOP)
  2. Adanya massa otot rangka yang rendah dan kekuatan otot yang rendah; dapat dinilai dengan kecepatan berjalan. (ESPEN-SIG)
  3. Kehadiran massa otot rangka yang rendah dan fungsi otot yang rendah yang direkomendasikan untuk dapat dinilai dengan kecepatan berjalan dan bahwa sarkopenia dikaitkan dengan kehilangan massa otot saja atau bersamaan dengan peningkatan massa lemak. (IWGS

Etiologi dan Faktor Risiko

Penyebab sarkopenia secara umum disebabkan oleh proses alami penuaan, yang sebenarnya masih belum sepenuhnya dipahami. Namun diyakini bahwa perjalanan penyakit sarkopenia yang sangat bervariasi tidak lepas dari adanya faktor risiko tertentu yang meliputi faktor risiko internal yang meliputi usia, jenis kelamin, genetik dan proses penuaan, juga faktor risiko eksternal yang meliputi kurangnya olahraga, sedentary life style, dan penyakit kronis.

Perjalanan Penyakit

Perjalanan penyakit atau patogenesis sarkopenia dibagi menjadi dua faktor, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.

Faktor intrinsik terdiri dari akumulasi dari sitokin proinflamasi, stres oksidatif, disfungsi mitokondria, resistensi insulin, gangguan motor neuron end plates, sementara faktor ekstrinsik terdiri dari radiasi, nutrisi, konsumsi obat-obatan, perilaku merokok, kejadian infeksi, pengaruh lingkungan sosial, dan aktivitas fisik. Interaksi antara faktor intrinsik dan ekstrinsik terjadi secara kompleks, simultan, dan dinamis.

Populasi lanjut usia yang mengalami sarkopenia akan memiliki interaksi secara spesifik dan individual yang akan menyebabkan ketidakseimbangan metabolisme protein antara degradasi/katabolisme dan sintesis/metabolisme protein.

Sarkopenia terjadi akibat tingginya katabolisme terhadap protein disertai rendahnya anabolisme terhadap protein. 

Kategori dan Stadium Penyakit

Kategori sarkopenia terbagi menjadi dua:

  1. Sarkopenia primer, yaitu sarkopenia terkait usia; tidak ada penyebab lain selain penuaan
  2. Sarkopenia sekunder, yaitu sarkopenia terkait aktivitas; merupakan hasil dari gaya hidup sedentari, kebiasaan berbaring dalam waktu lama, deconditioning atau zero-gravity conditions; sarkopenia terkait penyakit kronis; berkaitan dengan kegagalan organ tahap lanjut (saraf pusat, ginjal, jantung, paru, liver); penyakit inflamasi, keganasan dan penyakit endokrin; dan/atau sarkopenia terkait nutrisi; hasil dari intake nutrisi yang tidak adekuat baik karbohidrat maupun protein yang disertai malabsorbsi, gangguan gastrointestinal dan penggunaan obat-obatan yang berakibat pada anoreksia.

Mengenai stadium sarkopenia, yang mencerminkan tingkat keparahan suatu penyakit, perlu ditelaah lebih lanjut sebagai konsep dasar yang akan membantu memandu manajemen klinis sarkopenia yang menyerang individu. EWGSOP merekomendasikan pementasan konseptual sarkopenia menjadi tiga stadium yaitu presarkopenia, sarkopenia, dan sarkopenia parah (severe).

EWGSOP2 juga baru mengidentifikasi subkategori sarkopenia sebagai akut dan kronis. Sarkopenia yang berlangsung kurang dari 6 bulan dianggap sebagai kondisi akut, sedangkan sarkopenia yang berlangsung ≥6 bulan dianggap sebagai kondisi kronis.

Sarkopenia akut biasanya terkait dengan penyakit atau cedera akut, sedangkan sarkopenia kronis kemungkinan terkait dengan kondisi kronis dan progresif serta meningkatkan risiko kematian. Perbedaan ini dimaksudkan untuk menggarisbawahi perlunya melakukan penilaian sarkopenia berkala pada individu yang mungkin berisiko terkena sarkopenia untuk menentukan seberapa cepat kondisi berkembang atau memburuk. 

Diagnosis

Berikut adalah definisi operasional sarkopenia 2018 sebagai kriteria diagnosis:

  1. Kemungkinan sarkopenia diidentifikasi dengan hadirnya kriteria 1
  2. Diagnosis dikonfirmasi dengan dokumentasi tambahan dari kriteria 2
  3. Jika Kriteria 1, 2 dan 3 semuanya terpenuhi, sarcopenia dianggap parah

Keterangan:

Kriteria 1: Kekuatan otot rendah; Kriteria 2: Kuantitas atau kualitas otot rendah; Kriteria 3: Performa fisik rendah

Definisi sarcopenia ini selanjutnya dimodifikasi oleh European Society on Clinician Nutrition and Metabolism (ESPEN) Special Interest Groups (SIG) tentang nutrisi geriatri dan cachexia-anorexia pada penyakit wasting kronis. Sarkopenia didefinisikan sebagai berikut (pernyataan konsensus):

  1. Massa otot yang rendah, >2 standar deviasi di bawah rata-rata yang diukur pada orang dewasa muda (berusia 18-39 tahun pada populasi NHANES ke-3) dengan jenis kelamin dan latar belakang etnis yang sama, dan
  2. Kecepatan berjalan rendah (misalnya kecepatan berjalan di bawah 0,8 m/s pada uji jalan 4 m).

Baru-baru ini EWGSOP juga mengusulkan kriteria diagnostik berikut untuk sarkopenia antara lain:13

  1. Massa Otot Rendah (Low Muscle Mass; LMM) dinilai dengan indeks massa otot rangka ≤ 8,90 kg/m2 (pria) dan ≤ 6,37kg/m2 (wanita);
  2. Kekuatan otot rendah (Low Muscle Strength; LMS) dinilai dengan kekuatan genggaman < 30kg (pria) dan < 20kg (wanita); dan
  3. Kinerja fisik rendah (Low Physical Performance; LPP) dinilai dengan kecepatan berjalan ≤ 0,8 m/s.

EWGSOP2 merekomendasikan penggunaan kuesioner SARC-F sebagai cara untuk memperoleh laporan diri dari pasien tentang tanda-tanda yang dirasakan pasien sebagai karakteristik sarkopenia. SARC-F dapat dengan mudah digunakan dalam perawatan kesehatan masyarakat dan pengaturan klinis lainnya.

SARC-F adalah kuesioner 5 item yang dilaporkan sendiri oleh pasien sebagai skrining untuk risiko sarkopenia, terdiri dari lima pertanyaan: kekuatan/strength (S), bantuan berjalan/assistance walking (A), bangun dari kursi/rising from a chair (R), menaiki tangga/climbing stairs (C), dan jatuh/falls (F) pada skala 0 sampai 2 dari “tidak sama sekali” hingga “sangat sulit”, dan skor total (maksimal 10) dihitung.

Nilai batas yang mengarahkan kepada diagnosis sarkopenia adalah ≥4 poin. Respons didasarkan pada persepsi pasien tentang keterbatasannya dalam melakukan ke-5 item yang dinilai.

Pencegahan dan Tatalaksana

Pengenalan dan intervensi dini adalah kunci untuk meningkatkan keluaran pada pasien sarkopenia. Skrining pasien untuk gangguan fungsi fisik dan aktivitas hidup sehari-hari (Activity Daily Life; ADL) harus menjadi rutinitas dalam kunjungan pelayanan kesehatan untuk populasi usia lanjut. Pasien dengan gangguan ADL harus menjalani pemeriksaan yang lebih spesifik untuk sarkopenia.

Pengkajian lingkungan pasien untuk bahaya jatuh dan penerapan langkah-langkah keselamatan pencegahan harus menjadi bagian dari strategi pengobatan. Pola makan dan olahraga yang tepat adalah kunci pencegahan sarkopenia. Mengingat penurunan otot rangka dimulai pada usia tiga puluhan tahun, pencegahan sarkopenia disarankan setidaknya sejak usia paruh baya. Komite pedoman sarkopenia telah meninjau secara sistematis beberapa artikel terkait diet, olahraga, dan jenis intervensi lain untuk mencegah sarkopenia. 

Intervensi diet dan olahraga secara umum diketahui memberikan manfaat bagi kekuatan otot dan fungsi fisik. Namun, masih belum jelas apakah efek yang sama dapat diterapkan pada orang usia lanjut dengan sarkopenia seperti yang didefinisikan oleh kriteria EWGSOP atau AWGS.

Selain itu, tidak ada RCT yang menyatakan kriteria inklusi khusus dalam intervensi diet dan olahraga. Intervensi latihan fisik yang telah diuji dalam tiga RCT sebelumnya terdiri dari program pelatihan komprehensif yang terdiri dari latihan ketahanan 60 menit dua kali seminggu selama tiga bulan. Perbandingan dengan kelompok kontrol menunjukkan bahwa massa otot rangka apendikular, kecepatan gaya berjalan biasa, kecepatan gaya berjalan maksimum, dan kekuatan otot ekstensi lutut menunjukkan peningkatan setelah program latihan.

Pada intervensi diet dilakukan pemenuhan nutrisi meliputi pemberian 3 gram asam amino esensial dua kali sehari, suplemen teh catechin 540 mg setiap hari, 3 gram asam amino esensial dan 540 mg teh catechin setiap hari, dan 12 gram protein dan 7 gramasam amino esensial. setiap hari. Hasilnya didapatkan suplementasi asam amino esensial terbukti efektif untuk meningkatkan kekuatan otot ekstensi lutut. 

Selain kedua intervensi tersebut, identifikasi komorbiditas pada orang dengan sarkopenia juga diperlukan. Sarkopenia sering ditemukan berhubungan dengan komorbiditas, misalnya osteoporosis, osteopenia, obesitas, diabetes mellitus tipe II, kanker payudara, dan lain-lain. Dalam kasus seperti itu, sarkopenia dapat dianggap sebagai konsekuensi sekunder dari kondisi patologis yang ada. Dampak pengelolaan kondisi ini (misalnya kontrol diabetes yang lebih baik, pengurangan status peradangan, atau penurunan berat badan pada obesitas karena diet yang membatasi energi) pada sarkopenia yang menyertainya tidak jelas.

Sementara secara farmakologis, saat ini, belum ada agen untuk pengobatan sarkopenia yang disetujui FDA. Namun, beberapa entitas kimia baru saat ini sedang dalam berbagai tahap pengembangan.

Referensi:

  • Robinson SM, Reginster JY, Rizzoli R, Shaw SC, Kanis JA, Bautmans I, et al. Does nutrition play a role in the Prevention and Management of Sarcopenia? Clinical Nutrition. 2018;37(4):1121–32. Doi: 10.1016/j.clnu.2017.08.016
  • Cruz-Jentoft AJ, Bahat G, Bauer J, Boirie Y, Bruyère O, Cederholm T, et al. Sarcopenia: revised European consensus on definition and diagnosis. Age Ageing. 2019;48:16–31. Doi:10.1093/ageing/afy169
  • Falcon LJ, Harris-Love MO. Sarcopenia and the new ICD-10-CM code: screening, staging, and diagnosis considerations. Fed Pract. 2017;34:24–32.
  • Shafiee G, Keshtkar A, Soltani A, Ahadi Z, Larijani B, Heshmat R. Prevalence of sarcopenia in the world: a systematic review and meta- analysis of general population studies. J Diabetes Metab Disord. 2017;16:21. Doi:10.1186/s40200-017-0302-x
  • Badan Pusat Statistik. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2020. Jakarta: Badan Pusat Statistik; 2020
  • Santilli V, Bernetti A, Mangone M, and Paoloni M. Clinical definition of sarcopenia. Clin Cases Miner Bone Metab. 2014 Sep-Dec; 11(3): 177–180.
  • Aryana IG. Sarkopenia Pada Lansia: Problem diagnosis Dan Tatalaksana. Sarkopenia. 2021. ISBN (PDF) : 978-623-97955-8-0/Doi: 10.53638/9786239795580
  • Ardeljan AD, Hurezeanu R. Sarcopenia. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022.
  • Dhillon RJS, Hasni S. Pathogenesis and management of sarcopenia. Clinics in Geriatric Medicine. 2017;33(1):17–26. Doi: 10.1016/j.cger.2016.08.002
  • Cruz-Jentoft AJ, Baeyens JP, Bauer JM, Boirie Y, Cederholm T, Landi F, et al. Sarcopenia: European consensus on definition and diagnosis: Report of the European Working Group on sarcopenia in older people. Age and Ageing. 2010;39(4):412–23. Doi: 10.1093/ageing/afq034
  • Nishikawa H, Asai A, Fukunishi S, et al. Screening Tools for Sarcopenia. In Vivo. 2021;35(6):3001-3009. doi:10.21873/invivo.12595
Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaBegini Cara Terbaru Registrasi STR Tenaga Kesehatan

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar