sejawat indonesia

Pengujian Genetika Memberi Harapan bagi Pasien Parkinson

Selama ini, pendekatan pengobatan dan diagnosis untuk Parkinson, masih jauh dari pembahasan genetika. Meskipun, bukti menunjukkan bahwa hingga 15% dari kasus ini menunjukkan ke arah persoalan genetika. "Mutasi pada beberapa gen berbeda meningkatkan risiko penyakit Parkinson," kata Roy N. Alcalay, MD, MS, Profesor Neurologi Associate Alfred dan Minnie Bressler di Fakultas Kedokteran Universitas Columbia Vagelos. "Sampai saat ini, kami jarang menawarkan pengujian genetik untuk orang-orang dengan Parkinson karena manfaatnya belum jelas." Tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa genotipe dapat membantu, secara lebih baik, untuk memperkirakan tingkat perkembangan penyakit Parkinson. Lalu, ketika obat-obatan baru yang dirancang untuk orang-orang dengan gen Parkinson spesifik telah memasuki uji klinis, Alcalay menyadari bahwa perhitungannya telah berubah. "Dari studi genetik kami sendiri, saya menyadari banyak orang yang memenuhi syarat untuk mendaftar dalam uji coba tersebut, tetapi mereka tidak mengetahuinya karena tidak ada yang memberi tahu mereka tentang status genetik mereka," kata Alcalay. "Saya ingin menemukan cara sederhana dan etis dalam menawarkan informasi kepada pasien Parkinson tentang genotipe mereka, jika mereka tertarik." Gagasan Alcalay didukung oleh Parkinson's Foundation, yang baru-baru ini meluncurkan PDGENEration — sebuah program yang akan menawarkan pengujian dan konseling genetik gratis kepada pasien yang didiagnosis dengan Parkinson. Columbia University adalah pusat pertama yang berpartisipasi dalam program ini, yang akan segera dibuka di beberapa pusat lainnya di seluruh negara. Program akhirnya berencana untuk menguji 15.000 pasien. Alcalay, peneliti utama PDGENEration, berbicara dengan CUIMC Newsroom tentang bagaimana program ini dapat membantu mendukung pengembangan terapi yang dipersonalisasi untuk pasien Parkinson. Mengapa sekarang waktu yang tepat untuk memulai pengujian genetik pada penyakit Parkinson? Pengembangan obat penyakit Parkinson berada pada titik transisi, dengan fokus pada pengembangan obat yang menggunakan pendekatan pengobatan yang presisi. Tetapi, agar percobaan obat ini berhasil, lebih banyak pasien perlu diuji untuk mengetahui apakah mereka memenuhi syarat ata tidak untuk berpartisipasi. Program PDGENEration ini akan menguji pasien untuk mengetahui adanya mutasi pada tujuh gen yang terkait dengan penyakit Parkinson, termasuk dua yang lebih umum, GBA dan LRRK2. Hingga 10% orang dengan Parkinson memiliki salinan GBA yang rusak, yang meningkatkan risiko penyakit sekitar lima kali lipat. GBA membuat enzim yang sangat penting untuk mendaur ulang puing-puing di dalam sel, jadi ketika satu gen rusak, racun dapat menumpuk di dalam sel. Dua dari obat yang diselidiki dirancang untuk meningkatkan aktivitas GBA; yang lain dirancang untuk mencegah penumpukan racun di otak. (Catatan: Perawatan saat ini untuk penyakit Gaucher, yang terjadi ketika ada dua salinan GBA yang rusak, tidak masuk ke otak dan tidak cocok untuk pasien Parkinson). Diperkirakan 1% hingga 2% orang dengan penyakit Parkinson memiliki varian gen LRRK2 yang membuat enzim LRRK2 terlalu aktif. Para peneliti (termasuk kelompok di Columbia) masih menyelidiki bagaimana aktivitas LRRK2 yang berlebihan mengarah ke Parkinson. Risiko Parkinson meningkat sekitar 30% pada individu dengan mutasi LRRK2. Penting untuk dicatat bahwa pengujian saat ini tidak akan menemukan penyebab genetik Parkinson pada kebanyakan pasien. Namun, mempelajari lebih lanjut tentang genetika Parkinson dapat membantu kita memahami biologi yang mendasari penyakit ini dan pada akhirnya mengarah pada identifikasi target obat baru yang dapat menguntungkan semua orang dengan Parkinson. Sebelum terlalu jauh, penting untuk diketahui bahwa: pengujian genetik tidak untuk semua orang. Beberapa orang mungkin sangat ingin tahu mengapa mereka mengembangkan Parkinson, dan yang lain mungkin tidak tertarik dengan informasi ini “Beberapa pasien telah menemukan bahwa mereka memiliki mutasi gen yang berhubungan dengan Parkinson dengan kit pengujian genetik berbasis rumah. Namun, kit tersebut belum lengkap. Mereka hanya mencari satu dari beberapa perubahan yang berhubungan dengan Parkinson di LRRK2 atau GBA.” Dalam program PDGENEration, kedua gen akan disekuens untuk mencari semua perubahan Parkinson yang diketahui. Selain itu, peserta PDGENEration akan menerima informasi tentang perubahan lima gen tambahan, Parkin, PINK1, DJ-1, VPS-35, dan alpha-synuclein. Analisis ini juga memungkinkan kita untuk mengidentifikasi varian gen yang tidak diketahui (yang terkait dengan Parkinson). * Sejauh ini, Parkinson masih menjadi persoalan serius di dunia kedokteran. Pada tahun 2002, WHO memperkirakan penyakit Parkinson menyerang 876.665 orang Indonesia dari total jumlah penduduk sebesar 238.452.952. Berdasarkan hasil studi di 6 negara Asia, yaitu China, India, Indonesia, Pakistan, Bangladesh, dan Jepang, terdapat 2,57 juta orang penderita penyakit Parkinson pada tahun 2005. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat menjadi 6,17 juta orang pada tahun 2030. Parkinson menyebabkan 211.296 kematian dan 3,2 juta orang hidup dengan disabilitas di seluruh dunia pada tahun 2016. Total kasus kematian akibat penyakit Parkinson di Indonesia berjumlah 1100 kematian, menempati peringkat ke-12 di dunia atau peringkat ke-5 di Asia pada tahun 2002. Sedangkan pada tahun 2014, prevalensi mortalitas akibat Parkinson di Indonesia adalah 0,75 per 100.000 populasi. Dengan mendekati Parkinson secara genetika, semoga menjadi langkah awal untuk mencegah dan mengurangi tingkat keparahan dari penyakit saraf ini. Di Indonesia sendiri, pelayanan uji genetika untuk mengetahui berbagai risiko penyakit, bisa dilakukan di Genetics Indonesia.
Sumber: Columbia University Irving Medical Center
Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaPolusi Udara Berkaitan dengan Gangguan Kejiwaan

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar