sejawat indonesia

Aktivitas Ini Dapat Menurunkan Risiko Alzheimer Pada Hari Tua

Penyakit Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling sering terjadi pada orang tua. Prevalensi dan insidensi dari demensia relatif rendah pada pasien dengan umur 60 sampai dengan 65 tahun. Namun angka kejadian dari penyakit ini terus bertambah seiring dengan bertambahnya umur, mencapai hampir 50 persen pada mereka yang berumur 85 tahun. Setelah umur 90 tahun, maka insidensi penyakit Alzheimer juga melonjak secara dramatis.1 Alzheimer telah menjadi epidemi global dan menyebabkan beban besar tidak hanya bagi masyarakat namun juga bagi pelayanan kesehatan dan keluarga dari penderita.2 Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada jurnal JAMA Neurology, sekelompok peneliti melakukan investigasi studi kohort terhadap partisipan dari Mayo Clinic Study of Aging di Olmsted County, Minnesota, yang berumur 70 tahun atau lebih tanpa gangguan memori. Studi dilakukan mulai dari April 2006 sampai dengan Juni 2016 dan diikuti hampir 2.000 orang partisipan. Mereka kemudian ditanya apakah mereka pernah terlibat atau menggunakan lima akitivitas ini, yaitu: menggunakan komputer, membuat kerajinan tangan, melakukan permainan termasuk permainan catur atau bridge, pergi ke bioskop atau jenis sosialisasi lainnya, dan membaca buku dan seberapa sering mereka melakukannya. Para peneliti ingin melihat apakah aktivitas itu dapat membantu pencegahan gangguan kognisi ringan. Kondisi ini akan kemudian meningkatkan risiko untuk mengidap penyakit Alzheimer atau jenis demensia lainnya. Selain itu, mereka juga mengambil sampel darah partisipan untuk mengevaluasi pengaruh dari genotipe apolipoprotein E (APOE) ԑ4, suatu variase gen yang dikaitkan dengan Alzheimer. Pada awal penelitian, partisipan diberi informasi mengenai aktivitas yang menstimulasi otak dalam jangka waktu satu tahun sebelum berpartisipasi dalam studi ini. Penilaian neurokognitif juga dilakukan dengan evaluasi pada interval 15 bulan dalam empat tahun. Dalam kurun waktu itu, terdapat 456 partisipan studi kemudian mengidap gangguan kognisi ringan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa bermain games, membuat kerajinan tangan, penggunaan komputer, dan aktivitas sosial berhubungan dengan menurunnya risiko untuk mengalami gangguan kognisi ringan. Sedangkan untuk kegiatan membaca buku, tidak ditemukan efek proteksi terhadap gangguan kognisi ringan. Mereka yang melakukan aktivitas-aktivitas itu paling tidak satu kali dalam seminggu, mempunyai kemungkinan 20 persen sampai 30 persen lebih rendah untuk mengalami gangguan kognisi dibandingkan mereka yang tidak pernah melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Hasil yang paling signifikan datang dari para pengguna komputer dan mereka yang tidak memiliki gen apolipoprotein E (APOE) ԑ4. Dengan hasil yang ada, studi ini belum dapat menemukan mengapa beberapa aktivitas yang menstimulasi otak seperti ini dapat menurunkan risiko gangguan kognisi dibandingkan aktivitas lainnya. Walau begitu, mereka berspekulasi bahwa aktivitas mental tertentu seperti penggunaan komputer, membutuhkan keahlian teknis dan manual tertentu yang kemudian menjadi faktor yang berhubungan dengan penurunan risiko gangguan kognisi.3  
Referensi:
  1. Oscar L. Lopez M. The Growing Burden of Alzheimer's Disease [Internet]. AJMC. 2017 [cited 2 February 2017]. Available from: http://www.ajmc.com/journals/supplement/2011/A300_11nov/A300_11nov_Alzheimers_Lopez_S339/
  2. Brookmeyer R, Johnson E, Ziegler-Graham K, Arrighi H. Forecasting the global burden of Alzheimer’s disease. 2017.
  3. Krell-Roesch J, Vemuri P, Pink A, Roberts R, Stokin G, Mielke M et al. Association Between Mentally Stimulating Activities in Late Life and the Outcome of Incident Mild Cognitive Impairment, With an Analysis of the APOE ε4 Genotype. JAMA Neurology. 2017;.
Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaSinaps di Otak Menyusut Saat Tidur

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar