sejawat indonesia

Strategi Pengendalian Arthritis Menuju Kemandirian Fungsional yang Maksimal

Masyarakat dalam rentang waktu produktivitas, masih berada pada tanggung jawab secara fisik, biologis, ekonomi dan sosial. Sangat bergantung pada status kesehatannya saat itu. Banyak penyakit degeneratif yang onsetnya dimulai sejak usia pertengahan menyebabkan produktivitas masyarakat menurun dan masa lansia di kemudian hari menjadi kurang berkualitas. Salah satu di antaranya adalah Arthritis. Secara epidemiologi, biasanya penyakit ini ditemukan pada orang lanjut usia, namun pada beberapa kasus juga telah ditemukan pada anak-anak. Arthritis mengalami perburukan seiring berjalannya waktu. Diketahui bahwa Arthritis merupakan penyakit kronik dan fluktuatif. Sehingga, dalam penanganan diperlukan kecepatan serta ketepatan, demi mengurangi risiko perburukan, kerusakan sendi yang progresif, deformitas, disabilitas, dan kematian. Terapi medis yang diberikan kebanyakan berhasil untuk mengurangi nyeri yang dirasakan oleh penderita, dibandingkan dengan mengurangi disabilitas penderitanya. Latihan fisik dinilai lebih sering berhasil menargetkan faktor yang bisa mengarahkan penderita kepada disabilitas. Oleh karena itu, demi mencegah kecacatan dan bahkan berujung pada kematian pada penderita, diperlukan pengenalan dan pengaplikasian strategi pengendalian arthritis, terdapat 2 cara  tanpa kerumitan yang berarti, di antaranya adalah Joint protection dan Energy conservative. Berangkat dari definisi arthritis, diartikan sebagai suatu proses inflamasi yang terjadi pada satu atau lebih sendi. Pada umumnya, arthritis yang paling umum dijumpai adalah osteoarthritis atau rheumatoid arthritis. Sedangkan, Joint protection adalah serangkaian teknik yang dapat diterapkan pada kegiatan sehari-hari. Dalam hal ini, strategi, teknik serta prinsip penggunaan sendi yang sakit (arthritis) secara tepat, sehingga dapat mengurangi risiko cacat. Dan, Energy conservative adalah salah satu komponen manajemen kelelahan. Dimaksudkan, sebagai metode dalam merencanakan dan menyederhanakan serta menjalanakan aktivitas yang sedikit menggunakan energi namun efektif, sehingga dapat mengurangi efek kelelahan.  

Joint Protection

Joint protection atau proyeksi sendi, secara rinci memiliki tujuan membatasi dan/atau mengurangi nyeri saat beraktivitas, mengurangi inflamasi lokal pada sendi akibat dari tekanan mekanik baik internal maupun eksternal sendi, meningkatkan atau menjaga fungsi sendi, serta membantu membatasi pertumbuhan atau perkembangan deformitas pada sendi. Prinsip joint protection adalah respek terhadap nyeri, menghindari aktivitas yang dapat melukai sendi yang terlibat, menggunakan alat bantu yang sesuai, menggunakan sendi dan otot yang terkuat, menghindari untuk menetap pada satu posisi yang terlalu lama, keseimbangan aktivitas dan istirahat, hindari periode imobilitas yang terlalu lama, mengurangi kelebihan berat badan. Dalam mencapai tujuan dan prinsip-prinsipnya, teknik joint protection dapat menggunakan beberapa strategi-strategi di antaranya, menghindari posisi yang dapat menyebabkan perburukan sendi, mengatasi dengan cara-cara sederhana seperti membangun pegangan buatan pada pulpen atau kunci, menggunakan pisau atau gunting untuk membuka kemasan, menggunakan peralatan elektrik, menggunakan tuas pada keran, menghindari mencengkeram dengan kuat dan lain sebagainya. Selanjutnya,  hindari tekanan berlebihan atau konstan pada sendi. Contohnya, saat ingin beranjak dari tempat duduk, gunakan telapak tangan untuk bertumpu bukan dengan jari-jari tangan, menghindari bertopang dagu dengan jari, hindari posisi statis yang lama. Selanjutnya, menggunakan mekanisme tubuh yang tepat. Contohnya, saat mengangkat benda dari bawah pinggang, tekuk lutut dan pertahankan punggung tetap tegak, jangan angkat benda berat/besar di atas kepala, saat menggunakan gerakan putar, selalu putar tangan ke arah ibu jari, gunakan sendi besar dan terkuat untuk melakukan aktivitas tertentu. Strategi selanjutnya yang sering missperseption pada pasien adalah respek terhadap nyeri dan kelelahan, misalnya saja, membedakan antara rasa sakit dan kelelahan sehingga mengendalikan tubuhnya pun turut berbeda. Yang perlu diperhatikan terhadap respek nyeri ini adalah hentikan aktivitas bila merasakan tanda-tanda kelelahan dan sebisa mungkin menghindari aktivitas yang menghasilkan rasa nyeri yang menetap, istirahat yang cukup 10-12 jam setipa malam, tidur siang seperlunya. Karena, istirahat terbukti memberikan pengaruh kepada kondisi sendi, gunakan waktu, bukan rasa nyeri sebagai panduan dalam membatasi aktivitas. Melakukan posisi pencegahan deformitas sendiri pada tempat tidur yang sesuai, seperti dada membusung, menggunakan bantal kecil di bawah leher atau kepala, pergelangan kaku netral menggunakan bantal, spine lurus dengan pinggul memanjang, bahu ditahan dengan tangan lurus, dan lutut ekstensi dan lurus.  

Energi Conservation

Strategi ke dua yaitu Energi Conservation (konservasi energi) dengan kata lain manajemen kelelahan. Prinsip dari strategi ini pada penderita arthritis yaitu, Kegiatan mondar-mandir dengan menyeimbangkan waktu istirahat dan beraktivitas, bergantian antara kegiatan berat dan ringan, serta melakukan kegiatan lebih lambat. Menggunakan metode penyederhanaan kerja, seperti perencanaan ke depan, pemprioritasan, penggunaan teknologi yang hemat tenaga dan pendelegasian kepada orang lain bila perlu. Hindari kegiatan yang tidak dapat dihentikan dengan segera di luar kemampuan orang tersebut. Memodifikasi lingkungan untuk mendukung praktik ergonomis / praktik perlindungan sendi. Nyeri dan kelelahan adalah dua masalah paling umum yang dilaporkan oleh orang-orang dengan arthritis. Untuk orang dengan arthritis, melakukan tugas sehari-hari dapat menyebabkan beban berlebih atau ketegangan pada struktur sendi yang sudah terganggu oleh proses penyakit. Kelelahan semakin memperburuk masalah dalam mengelola kegiatan sehari-hari. Strain sendi dapat berkontribusi pada melemahnya struktur pendukung sendi (ligamen dan kapsul), meningkatkan nyeri dan berkontribusi pada perkembangan kelainan bentuk. Salah satu hal yang diperlukan dari seorang dokter dalam menangani pasien adalah kemampuan edukasi, terapi farmakologi adalah hal kedua dalam kontribusi penyembuhan pasien. Besar kemungkinan dengan edukasi yang baik, bagaimana pasien memperlakukan tubuhnya, memahami sakitnya merupakan poros kesembuhan utama. Termasuk, pada penderita artihritis hanya dengan edukasi strategi pengendalian aktivitas sehari-hari dapat menghilangkan faktor resiko, menghalangi perburukan dan mencegah kecacatan.
Referensi:
  1. American Academy of Orthopedic Surgeons. Orthoinfo Basics : Arthritis. 2019. Amerika : American Academy of Orthopedic Surgeons.
  2. Frontera, Walter, et all. DeLisa’s Physical Medicine and Rehabilitaion; Principles and Practice. 5th Volume 1.2020. Philadelphia : Lippincott William & willkins.
Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaHubungan Antara Penggunaan Rokok Elektrik Dengan Iritasi Saluran Nafas Dan Asma

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar