Transplantasi Penis dan Skrotum

Transplantasi organ merupakan salah satu bukti kemajuan ilmu kedokteran modern. Tujuannya untuk membantu mengembalikan fungsi tubuh agar dapat bekerja dengan baik dan memberikan kepercayaan diri pada si penerima yang pada umumnya kehilangan anggota tubuh karena masalah kesehatan yang parah, kecelakaan yang parah atau kehilangan bagian tubuh karena cedera traumatis. Namun, proses transplantasi organ penuh dengan kesulitan, mulai dari kelangkaan organ dan jaringan yang disumbangkan hingga komplikasi yang mungkin terjadi karena donor organ yang tidak cocok. Salah satu transplantasi yang paling sulit adalah transplantasi organ kelamin laki-laki atau penis. Tidak hanya karena proses pembedahannya yang sulit, namun juga perhatian yang menyangkut etikal dan praktikalnya. Pada tahun 2014  juga pernah dilakukan transplantai penis di Afrika Selatan dan tahun 2016 di Rumah Sakit Massachusetts di Boston, yang dalam prosedur itu hanya penis saja yang ditransplantasikan. Dan untuk pertama kalinya, tim ahli bedah dari Johns Hopkins Medicine di Baltimore, Md berhasil melakukan transplantsi penis dan skrotum dari donor yang sudah meninggal kepada seorang resipien yang kehilangan anggota genitalnya dalam suatu kecelakaan. Para ahli bedah telah merencanakan untuk melakukan hal ini sejak tahun 2013. Dalam pernyataan telebriefing lembaga program genitourinari, direktur program klinis, Dr Rick Redett menyebut prosedur tersebut sebagai puncak dari 5 tahun penelitian dan kolaborasi dari berbagai disiplin ilmu. Pembedahan berlangsung selama 14 jam, dilakukan oleh tim dokter, ahli anestesi, dan tim perawat yang dipimpin oleh Dr. W. P. Andrew Lee, direktur bedah plastik dan rekonstruktif di Johns Hopkins University School of Medicine. Selama prosedur, penis dan jaringan sekitarnya dan skrotum–meskipun bukan testis–dari donor yang sudah meninggal dicangkokkan ke resipien. Jenis operasi transplantasi kompleks ini disebut "vascularized composite allotransplantation" atau "allotransplantation komposit vaskularisasi". Jaringan-jaringan yang rusak dan bekas luka dikeluarkan dari pasien dan pembuluh darah serta saraf yang diperlukan telah diidentifikasi. Untuk melakukan transplantasi, 3 arteri, 4 pembuluh darah dan 2 saraf dihubungkan di bawah miskroskop untuk memberikan perfusi darah lengkap dan sensasi pada jaringan yang ditransplantasi. Selain itu, penerapan konseling psikologis untuk pasangan seksual resipien juga disarankan untuk mencegah timbulnya potensi beban psikologis dari sisi istri. Keberhasilan operasi terkait erat dengan pemilihan resipien karena masalah psikologis juga terkait dalam proses transplantasi penis. Oleh karena itu, kandidat yang ideal adalah orang yang telah menyelesaikan penilaian pra-operasi dengan hasil yang positif. Saat ini resipien pulih dengan baik dan juga mengikuti protokol modulasi imun - yang juga melibatkan transplantasi sumsum tulang dari donor - untuk memastikan bahwa tubuhnya tidak menolak organ dan jaringan yang ditransplantasikan sehingga resipien mendapatkan kembali fungsi kemih dan seksual sepenuhnya.  
Sumber:
Konten telah diedit untuk panjang dan gaya penulisan.
Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaPenggunaan Terapi Cahaya Inframerah untuk Mengobati Sakit Kronis