sejawat indonesia

Waspada Pseudosains Di Tengah Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 masih terus berlangsung. Penyebarannya juga diiringi berbagai temuan hingga informasi terbaru. Namun, Kondisi teknologi dan media sosial skala global yang dapat menyebarluaskan informasi mengenai virus corona secara cepat, sehingga informasinya sering kali simpang siur. Bahayanya tidak sedikit yang menelan mentah-mentah informasi palsu hingga hoaks dan menganggap bahwa informasi tersebut adalah valid.

Hoaks yang beredar, terutama ketidak akuratan mengenai info Covid-19 dapat membahayakan fisik dan mental penerimanya. Informasi tersebut semakin diperparah dengan klaim ilmu semu/palsu atau yang dikenal dengan Pseudosains.

Pseudosains adalah ilmu pengetahuan yang rumusan atau klaimnya terkesan masuk akal tetapi sulit diuji kebenarannya. Ilmu ini dapat diklaim berdasarkan keyakinan orang banyak karena terlihat ilmiah, tetapi tidak memenuhi persyaratan metode ilmiah karena sering kali berbenturan dengan hasil uji ilmiah secara umum.

Pseudosains sebenarnya erat kaitannya dengan hoaks. Namun, pseudosains kadang terlihat logis karena didukung oleh gambar atau visual yang terlihat masuk akal, sedangkan hoaks dapat langsung dipatahkan dengan unsur penelitian dan cek fakta. Lalu, bagaimana caranya mengenali pseudosains?

Berikut ini adalah beberapa kriteria pseudosains yang dapat diidentifikasi:

1. Pernyataannya samar dan tidak bisa difalsifikasi.

Artinya informasi yang bersifat pseudosains tidak mugkin dibuktikan kesalahannya karena subjektif dan secara teknis tidak ada cara atau alat untuk membuktikannya. Pernyataan saintifik harus dapat teruji secara berulang dan menyangkal segala penyataan yang menantang data dan bukti penemuannya.

Istilah teori konspirasi sebagai klaim, tidak dapat diuji, spekulatif, dan bukan hasil observasi. Teori konspirasi muncul karena praduga untuk memenuhi rasa ingin tahu ketika informasi yang dibutuhkan tidak tersedia atau bahasa kekiniannya ‘cocoklogi’. Contoh kasus, sebuah riset dari Cambridge University pada sekitar 3.000 remaja di Amerika Serikat menunjukkan 85% percaya teori konspirasi yang menyebutkan SARS-CoV-2 merupakan senjata biologis yang diciptakan pemerintah Cina, virus yang terlepas secara tidak sengaja oleh Cina, bahkan sebagian mempercayai virus ini dilepaskan oleh AS sendiri.

Teori seperti ini tidak dapat difalsifikasi, karena pada dasarnya tidak ada ruang untuk pembuktian benar atau salahnya.

2. Teori tidak dapat diuji kembali secara independen oleh pihak lain.

Contohnya, obat herbal yang cukup viral pada masa pandemi COVID-19 adalah kapsul Lianhuaqingwen, granul Jianhuaqinggan, dan obat injeksi Xuebijing. Meski pihak berwenang di Cina mengklaim obat ini dapat efektif mengurangi gejala demam, batuk, dan lemas, tapi sejauh ini tidak ada keterangan jelas mengenai percobaan klinis yang detail dan berkualitas terkait obat herbal itu.

Sebuah hasil penelitian yang saintifik, tepercaya dan jelas signifikansinya wajib dapat diulangi percobaannya oleh semua peneliti lainnya dengan hasil akhir yang terbukti sama.

3. Pseudosains mengabaikan segala bukti yang bertentangan dengannya.

Pseudosain tidak memiliki pijakan dalam ranah ilmiah. Mereka hanya memilah dan memilih bukti empiris yang mendukung pernyataannya saja. Bahkan informasinya cenderung bertentangan atau kebalikan dari real sains yang hasil penelitiannya diuji secara berkala.

Contohnya media massa sempat heboh dengan kasus Hadi Pranoto yang berkedok profesor mikrobiologi. Dia mengklaim menciptakan antibodi COVID-19 sebagai obat minum pencegah COVID-19 dan mampu menyembuhkan dalam 2-3 hari. Klaim ini jelas merupakan pseudosains, karena mengabaikan bukti ilmiah yang bertentangan dengan pemahaman dan teori yang dikembangkan oleh Hadi.

Secara ilmiah, antibodi merupakan protein yang diciptakan oleh sistem imun tubuh kita setelah terinfeksi atau divaksinasi. Kerja vaksin COVID-19 bukan memberikan antibodi secara langsung, tapi, salah satunya, melalui protein sub-unit virus SARS-Cov-2 yang dilemahkan atau dimatikan.

4. Pseudosains diangkat dari isu-isu sekitar dan tidak memiliki fungsi jelas.

Selama pandemi Covid-19, beredar kalung Virus Shut Out dari Jepang dan produk kalung antivirus buatan lokal oleh Kementerian Pertanian. Pernyataan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang menyebut kalung berbasis eucalyptus (kayu putih) tersebut mampu membunuh virus corona hingga 80-100% tentu tidak berdasar.

Secara ilmiah, para saintis menyatakan SARS-CoV-2 menginfeksi melalui reseptor ACE2 di organ pernapasan paru. Belakangan diketahui juga reseptor ACE2 tersebar di organ lainnya yang menjadi potensi terjadinya kerusakan multiorgan pada perparahan gejala COVID-19.

5. Bersifat argumentatum ad ignorantiam atau argumen karena ketidaktahuan.

Pengembang teori konspirasi akan memanfaatkan ketidakmampuan pihak-pihak yang tidak mampu membuktikan bahwa klaim yang mereka sodorkan adalah palsu. Misalnya konspirasi pandemi COVID-19 direncanakan sejak 2017 dengan menampilkan data ekspor palsu Bank Dunia bertuliskan ”Covid-19 Test kits exports by country in 2017”.

Ada juga hoaks bahwa COVID-19 merupakan senjata biologis yang bocor, berhubungan dengan politik, dan produk sampingan teknologi wireless 5G.

Klaim seperti itu akan terus bertambah dan menjadi argumentasi pembelaan bagi pihak yang mempercayainya. Korban pseudosain di sini merupakan pihak yang rentan percaya karena ketidakmampuan menyangkal klaim tersebut berdasarkan sumber sahih, padahal memang klaim semu seperti itu tidak perlu dibuktikan kepalsuannya.

6. Klaim kosong tak berdasar atau dibesar-besarkan tanpa uji terlebih dulu.

Pseudosains lebih menekankan penegasan dibandingkan hasil uji, cenderung kurang memiliki data yang terbuka pada hasil uji oleh ilmuwan dan tidak memajukan ilmu pengetahuan, serta tidak mau menerima penolakan.

Informasi yang disampaikan seringkali mentah karena tidak memiliki dasar ilmiah. Apa yang dapat dilakukan agar tidak mudah dikelabui dengan Pseudosains? Salah satu caranya adalah dengan menerapkan Sikap Ilmiah pada kehidupan sehari-hari:

  1. Rasa ingin tahu yang tinggi. Ketika mendengar berita baru, kita perlu mengecek sumber dan isi berita tersebut. Double check baik sumber dan informasinya, jangan hanya mau menerima informasi dari satu sumber saja.
  2. Skeptis terhadap informasi baru. Kesan pertama ketika mendapat sebuah informasi adalah curigai terlebih dahulu, ragukan kebenarannya sampai benar-benar terbukti terutama didukung oleh bukti-bukti uji dan data.
  3. Penilaian secara objektif. Jika sebuah informasi datang dari sumber yang kurang dikenal, jangan langsung dinilai sebelah mata. Suatu informasi dapat dicerna salah bisa jadi karena cara berpikir kita yang keliru karena didasari hanya berdasarkan asumsi. Hati-hati dengan jebakan bias konfirmasi.
  4. Dapat membedakan bahasa fakta dan opini. Real sains adalah suatu ilmu yang datanya dipublikasikan secara transparan, diulas oleh berbagai ahli, dan bersedia diubah jika ada bukti baru yang lebih kuat. Real sains adalah fakta, karena didukung oleh data dan kesepakatan umum dengan format bahasa yang formal.
  5. Berpikir secara kritis dan teliti. Kritis berarti tidak menelan ‘mentah’ informasi yang diterima. Jika narasinya janggal, kontradiktif, atau kurang secara logika, ajukan pertanyaan atau mengkritisi bahkan membantah jika informasi tersebut salah. Teliti artinya mencermati informasi secara detail.
Claire Wardle, ahli disinformasi dari Harvard University memberikan strategi, “Cara terbaik melawan misinformasi adalah dengan membanjiri sumber pencarian berita dengan informasi yang akurat, mudah dipahami, menarik dan mudah disebarkan melalui media di perangkat seluler”.

Sebagai tenaga kesehatan, kita juga perlu aktif menyebarkan pengetahuan yang akurat, kredibel, dan dapat dibuktikan kepada masyarakat terutama soal pemberitaan Covid-19, melalui berbagai media-media praktis seperti media massa dan media sosial agar pseudosains tidak semena-mena tersebar dan terus mengelabui orang-orang di sekitar kita.  


Referensi:

Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaBronkokonstriksi, Asma Yang Diinduksi Akibat Olahraga

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar