sejawat indonesia

10 Fakta Mengenai Resistensi Antimikroba

Resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme seperti bakteri, jamur, virus dan parasit berubah ketika mereka terpapar oleh obat antimikroba, seperti antibiotik, antijamur, antivirus, antimalaria, dan antihelmintes. Sebagai hasilnya, obat-obatan menjadi tidak efektif dan infeksi tetap bertahan di dalam tubuh, dan meningkatkan risiko penyebarannya kepada orang lain. Untuk lebih mengenal resistensi antimikroba, berikut fakta-fakta yang perlu Anda ketahui:

  1. Resistensi antimikroba dikenal sebagai salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan manusia di dunia.
  2. Secara global, 480.000 orang menjadi resisten terhadap banyak obat (multi-drug resistant, atau MDR) terhadap penyakit TBC setiap tahunnya, dan resistensi obat juga sudah mulai berkomplikasi pada perjuangan untuk melawan HIV dan malaria.
  3. Kegagalan pengobatan pada lini terakhir pengobatan gonore (sefalosporin generasi ketiga) telah dikonfirmasi pada paling tidak 10 negara (Australia, Austria, Kanada, Perancis, Jepang, Norwegia, Slovenia, Afrika Selatan, Swedia, dan Inggris).
  4. Colistin adalah pengobatan terakhir untuk infeksi mematikan yang disebabkan oleh Enterobacteriaceae yang resisten terhadap karbapenem. Resistensi terhadap colistin baru-baru ini telah terdeteksi di beberapa negara dan regio, membuat infeksi yang disebabkan oleh bakteri jenis tersebut tidak dapat diobati lagi.
  5. Tidak adanya antibiotik yang efektif, akan mengurangi efektivitas pembedahan yang besar dan kemoterapi untuk kanker.
  6. Penggunaan yang berlebihan dan tidak tepat dari antibiotik merupakan kausa utama dari peningkatan bakteri yang resisten terhadap bakteri.
  7. Resistensi obat adalah fenomena evolusi yang alami. Jika sebuah mikroorganisme terpapar oleh sebuah antimikroba, semakin rentan organisme menyerah, meninggalkan resistensi ke antimikroba. Mereka dapat menurunkan resistensinya kepada turunannya. Setiap kali seseorang mengonsumsi antibiotik, bakteri yang sensitif terbunuh, namun bakteri yang resisten tetap tinggal untuk bertumbuh dan memperbanyak diri.
  8. Banyak strain bakteri yang muncul bahkan sebelum obatnya disetujui untuk beredar, akibat uji coba klinis yang ekstensif. Linezolid, sebuah antibiotik yang dikembangkan untuk melawan Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), disetujui oleh regulator obat di Amerika Serikat pada tahun 2000. Strain yang resisten terhadap linezolid telah ditemukan pada pasien setahun sebelumnya.
  9. Kurangnya kualitas dari obat berkontribusi terhadap resistensi obat. Konsentrasi obat yang di bawah angka optimal pada obat berkualitas rendah dapat membuat kondisi di mana resistensi obat dapat berkembang. Pada beberapa negara dengan akses antimikroba yang minim, pasien terpaksa mendapatkan pengobatan antimikroba yang tidak selesai atau terpaksa mencari alternatif lain termasuk obat-obatan yang tidak memenuhi standar.
  10. Peternakan hewan adalah salah satu sumber dari resistensi antibiotik. Dosis sub-terapi digunakan pada peternak hewan untuk mendukung pertumbuhan dan mencegah penyakit. Hal ini dapat menghasikan mikroorganisme yang resisten, yang dapat menyebar ke manusia.
Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnya18 Resistensi Antimikroba Paling Mengancam

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar