sejawat indonesia

Beragam Teknik Rejuvenation Wajah dan Perawatannya

Rejuvenation adalah teknik perawatan kecantikan yang bertujuan untuk menyamarkan tanda-tanda penuaan seperti garis keriput serta flek-flek pada kulit. Teknik perawatan rejuvenation mulai berkembang karena permintaan masyarakat yang tinggi untuk membuat kulit jadi lebih halus, kencang, dan kenyal.

Dalam beberapa tahun terakhir, telah berkembang berbagai teknik dalam rejuvenasi kulit wajah sebagai akibat untuk menghindari photoaging--kondisi perubahan kulit yang diakibatkan oleh paparan kronik sinar ultraviolet B (290 - 320 nm), sinar ultraviolet lampu (320-400 nm).

Photoaging dapat menyebabkan timbulnya kerutan halus, perubahan tekstur wajah, diskromasia pigmen, dan keratosis aktinik. Sinar matahari, kelainan kulit, proses penuaan, bahkan faktor herediter dapat menyebabkan irregularitas kulit pada wajah dan bagian tubuh lain.

Termasuk iregularitas jaringan kulit seperti kerutan, luka jerawat, kelainan pigmentasi, freckles, sunspot, dan telangiektasis. Selain itu, kulit dapat terlihat lebih kusam, dan lebih longgar.

Rejuvenasi wajah secara garis besar dibagi menjadi operatif, yaitu face lift surgery dan non operatif seperti dermal filler, injeksi botulinum toxin (botox), peeling kimia maupun laser, dermabrasi, mikrodermabrasi, thread lift dan skleroterapi. Face lift surgery atau rhydectomy adalah prosedur rejuvenasi langsung untuk mengubah proses anatomi yang terjadi akibat penuaan.

Menurut American Society of Plastic Surgeon, terdapat dua jenis teknik rejuvenation. Pertama, mengangkat sel-sel kulit mati melalui pengelupasan kulit, dengan teknik mikrodermabrasi dan mikroneedling yang akan mengganggu lapisan atas sel kulit dan mendorong kulit untuk regenerasi sehingga menjadi lebih kuat.

Kedua, melalui tindakan minimal invasif seperti melakukan suntikan anti-aging (anti penuaan) yang membuat kulit tampak lebih elastis. Hal ini dapat mengurangi munculnya kerutan pada wajah.

Dermabrasi

Dermabrasi merupakan teknik yang menggunakan material abrasif untuk membuat luka pada lapisan epidermal dan dermal. Ini untuk memicu terjadinya perbaikan jaringan kulit pada saat fase penyembuhan.

Karena dermabrasi dilakukan dengan ablasi kulit dari epidermis hingga bagian pertengahan dermis (mid-dermis), maka beberapa kondisi yang terjadi di atas/pada lapisan ini dapat ditatalaksana dengan dermabrasi.

Beberapa kondisi di antaranya adalah seperti lentigo, keratosis aktinik, skar akne, rinofima, dan rhytides (kerutan kulit). Dermabrasi dilakukan dengan alat portable yang dipegang dan tersambung dengan mesin dermabrasi. Mesin ini memberikan tekanan pada kulit dengan kecepatan tertentu dan diatur oleh pedal pada kaki.

Jumlah tekanan dan kecepatan rotasi pada alat yang diberikan ke kulit akan menentukan kedalaman penetrasi alat. Tindakan ini dilakukan dengan anestesi untuk memaksimalkan kenyamanan pasien. Dermabrasi regional diberikan anestesi lokal atau blok saraf (nerve blocks) dan dermabrasi pada seluruh wajah (full facial) diberikan sedasi dengan anestesi general.

Beberapa kontra indikasi tindakan ini adalah infeksi herpes simpleks, riwayat terapi isotretinoin dalam 6 bulan terakhir, akne vulgaris fase aktif yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi post-operatif.

Dermabrasi paling aman dilakukan pada tipe kulit fitzpatrick I dan II. Sedangkan untuk tipe kulit fitzpatrick III ke atas akan meningkatkan risiko hipo/hiperpigmentasi post-operatif. Sebelum melakukan tindakan, keuntungan dan risiko dispigmentasi harus dipertimbangkan.


Baca Juga :


Mikrodermabrasi 

Mikrodermabrasi merupakan prosedur kosmetik dengan menggunakan alat abrasi minimal untuk melepas lapisan atas kulit yang tebal dan tidak merata. Manfaat utama mikrodermabrasi yaitu sebagai tindakan aestetik dan kosmetik.

Tindakan ini tergolong ke dalam prosedur minimal invasive yang meratakan warna kulit, mencerahkan kulit, menyamarkan noda hitam dan kerutan pada kulit, membersihkan pori-pori, dan juga menghaluskan kulit. Produksi jaringan kolagen pada kulit biasanya akan menurun seiring bertambahnya usia, yang menyebabkan jaringan kulit longgar dan pertumbuhan jaringan kulit tidak merata.

Mikrodermabrasi membantu mempertebal lapisan kolagen kulit, sehingga membuat kulit tampak lebih kencang, halus, elastis dan terlihat lebih muda. Mikrodermabrasi diindikasikan pada orang yang memiliki masalah kosmetik kulit wajah berupa  : 

  • Jerawat atau bekas jerawat 
  • Kulit kusam
  • Kulit halus atau kerutan
  • Komedo dan pori-pori besar
  • Flek hitam akibat sinar matahari
  • Warna kulit yang tidak sama
  • Hiperpigmentasi
  • Keratosis papilaris
  • Stria Distensae (stretch marks) 

Beberapa kontraindikasi dari mikrodermabrasi yaitu adanya infeksi aktif pada kulit seperti infeksi herpes simplex, varicella zoster, human papilloma virus, dan impetigo. MDA harus dilakukan secara hati-hati pada individu dengan riwayat keloid.

Kontraindikasi relatif dari MDA yaitu kondisi seperti rosasea dan telangiektasis. Pada individu dengan alergi kristal abrasif, teknik MDA tanpa kristal dapat dilakukan.

Laser And Intense Pulse Light (IPL) Treatments

Ablative laser skin resurfacing merupakan teknik untuk melepas lapisan epidermal dan lapisan superfisial dermis kulit untuk mencegah tanda-tanda penuaan kulit akibat paparan sinar matahari.

Penggunaan laser untuk ablasi dan resurfacing wajah didasarkan pada konsep termolisis selektif pada lapisan epidermal dan dermal melalui energi cahaya. Energi cahaya dari alat laser akan ditangkap oleh komponen melanin dan air yang akan menghasilkan energi panas dan menghancurkan jaringan sekitar.

Dalam penggunaannya di terapi ablasi, laser skin resurfacing terbagi menjadi laser CO2 (karbon dioksida) dan Er:YAG (erbium-doped yttrium aluminum garnet laser). Beberapa indikasi ablative laser resurfacing diantaranya adalah :

  • Photoaging 
  • Kerutan Wajah
  • Skar Akne
  • Skar Operasi atau Traumatik
  • Keratosis Aktinik
  • Keratosis Seboroik
  • Kutil kelamin
  • Nevus
  • Xanthelasma
  • Skin Tag
  • Rinofima
  • Hiperplasia sebaceous
  • Granuloma piogenik
  • Neurofibroma
  • Angiofibroma
  • Keloid

Sedangkan terdapat beberapa kontraindikasi dari tindakan ini yaitu riwayat keloid, riwayat penggunaan isotretinoin dalam 6 bulan terakhir, ektropion, skleroderma, herpes fase aktif, dan riwayat peeling kimia dalam 6 minggu - 6 bulan terakhir.

Laser resurfacing dapat memberikan cara yang aman dan efektif sebagai teknik rejuvenation wajah dengan efek samping minimal dan tingkat kepuasan yang tinggi. Beberapa komplikasi yang pernah dilaporkan, tapi jarang terjadi yakni eritema persisten, hiper/hipopigmentasi, infeksi (virus, bakteri, jamur), luka, erupsi akneiformis, milia, dan ektropion.

Beberapa komplikasi yang pernah dilaporkan namun jarang terjadi yaitu eritema persisten, hiper/hipopigmentasi, infeksi (virus, bakteri, jamur), luka, erupsi akneiformis, milia, dan ektropion.

Kemoeksfoliasi (Peeling Kimia) 

Kemoeksfoliasi atau peeling kimia merupakan metode ablasi kulit lokal yang menggunakan agen kaustik. Metode ini dapat memprediksi kedalaman proses kaustik pada kulit untuk meningkatkan tampakan kosmetik kulit.

Tujuan dari peeling kimia adalah untuk melepaskan lapisan kulit yang rusak dengan kedalaman tertentu. Ini membuat jaringan kulit baru yang normal dapat tumbuh, dan secara bersamaan meminimalisir komplikasi seperti luka dan kelainan pigmen kulit.

Agen kaustik yang digunakan dalam peeling kimia menyebabkan keratokoagulasi dan denaturasi protein pada epidermis dan dermis, kemudian akan menyebabkan pelepasan sitokin pro-inflamasi.

Proses inflamasi yang terjadi akan mengaktifkan proses penyembuhan jaringan kulit melalui deposisi kolagen dan elastin dermal baru, perbaikan struktural protein rangka kulit, jaringan konektif, dan regenerasi keratinosit baru. Beberapa agen kaustik yang biasa digunakan dalam peeling kimia yaitu AHA (Alpha Hidroxy Acids), BHA (Beta Hydroxy Acids), TCA (Trichloroacetic Acid), dan Fenol.

Kontraindikasi kemoeksfoliasi diantaranya adalah :

  • Riwayat alergi terhadap agen peeling
  • Riwayat penggunaan isotretinoin dalam 6 bulan terakhir
  • Pasien hamil maupun menyusui
  • Pasien dengan psoriasis, dermatitis atopi, paparan terapi radiasi, atau riwayat operasi wajah

Diperlukan juga pertimbangan risiko dan manfaat jika kemoeksfoliasi ingin dilakukan pada pasien dengan riwayat keloid, atau gangguan penyembuhan luka akibat diabetes tidak terkontrol atau kondisi immunosupresi.

Injeksi Botulinum Toxin (Botox) 

Botulinum toxin merupakan neuromodulator injeksi yang didapatkan dari neurotoksin bakteri Clostridium botulinum, yaitu bakteri penyebab botulisme. Senyawa ini bekerja dengan menghambat neurotransmisi antara ujung saraf perifer dan serat otot sehingga membuat paralisis otot skelet.

Awalnya obat ini digunakan dalam terapi medis, tapi kini botox digunakan dalam terapi rejuvenasi wajah. Botox merupakan metode yang aman untuk mengatasi defek kosmetik akibat kontraksi otot yang berlebihan.

Namun, efek botox ini hanya transien, dan fungsi otot akan kembali normal dalam beberapa bulan sehingga jika pasien ingin mempertahan bentuk wajah maka diperlukan suntikan ulang. Injeksi botox telah sebagai terapi rejuvenasi telah memberikan kepuasan yang tinggi bagi pasien.

Tempat injeksi dari botox biasanya dilakukan pada garis glabellar, garis dahi horizontal, garis crow's feet, bunny lines, area perioral, superolateral orbicularis oculi, inferior orbicularis oculi, mentalis, levator labii complex, masseter dan lain-lain.

Tempat injeksi ini disesuaikan dengan masalah kosmetik pasien. Beberapa kontraindikasi injeksi botoks adalah skar keloid, kelainan nueromuskular, alerti botox, ibu hamil dan menyusui. 

Filler Kulit 

Injeksi filler kulit merupakan prosedur kosmetik kedua yang paling banyak dilakukan di Amerika Serikat. Terapi ini digunakan untuk mengatasi defisiensi volume wajah, skar, kerutan halus, memperbaiki/mengubah kontur wajah,  penambahan volume pada bagian wajah seperti bibir.

Popularitas filler kulit bertumbuh pesat dalam beberapa bulan terakhir karena teknik ini menawarkan rejuvenasi yang mencapai target aestetik yang sebelumnya hanya bisa didapatkan melalui operasi wajah, tapi dengan harga lebih murah tanpa waktu penyembuhan yang lama.

Terdapat beberapa tipe filler kulit, yaitu biodegradable dan non biodegradable. Filler biodegradable bekerja dengan cara menstimulasi tubuh untuk memproduksi kolagen sehingga memiliki efek kerja yang moderat-panjang.

Sedangkan filler non biodegradeble bekerja dengan cara menstimulasi reaksi tubuh untuk deposisi kolagen fibroblastik di sekitar mikrosfer nonabsorbabel dari filler.

Cari tahu lebih banyak tentang penanganan masalah kulit dan wajah bersama ahlinya dalam Live CME Webinar Advanced Aesthetic Dermatology.


Penulis: dr. Dody Abdullah Attamimi

Referensi:

  • Shah M, Crane JS. (2022). Microdermabrasion. In StatPearls. Treasure Island. StatPearls Publishing.
  • Bedford L, Daveluy S. (2022). Skin Resurfacing Dermabrasion. In StatPearls. StatPearls Publishing.
  • Funt, D., & Pavicic, T. (2013). Dermal fillers in aesthetics: an overview of adverse events and treatment approaches. Clinical, cosmetic and investigational dermatology, 6, 295–316. 
  • Padda IS, Tadi P. (2022). Botulinum Toxin. In StatPearls. StatPearls Publishing.
  • Samargandy, S., & Raggio, B. S. (2022). Skin Resurfacing Chemical Peels. In StatPearls. StatPearls Publishing.
  • Holck, D. E., & Ng, J. D. (2003). Facial skin rejuvenation. Current opinion in ophthalmology, 14(5), 246–252.
Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaMengenal Penyebab Serta Gejala Klinis Sindrom Nefrotik

Event Mendatang

Komentar (1)
Darma Okta Filujeng
Posted at 18 January 2023 14:45

Dok kalau punya leloid di wajah bawah hidung. TDK terlalu tebal kira kira berapa kali terapi lasser ya bisa hilang

Komentar

Log in untuk komentar