sejawat indonesia

ChatGPT Jadi Pengganti Terapis Kesehatan Mental, Apa Kata Para Pakar?

ChatGPT menjadi fenomena baru yang sedang digandrungi oleh mereka yang melek teknologi. Dengan respons nyaris akurat, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence, AI) berformat chatbot tersebut kini menjadi tempat orang-orang meminta saran untuk berbagai hal. Mulai dari untuk ranah kreatif, mencari informasi tertentu dan spesifik, hingga perkara kesehatan.

Untuk masalah kesehatan, penggunaan ChatGPT kini merambah dunia terapi kesehatan mental, dan hal tersebut dipublikasikan secara luas melalui platform media sosial TikTok. Seorang pengguna TikTok dengan username @sarahl.ai menunjukkan kepada pengikutnya rentetan tangkapan layar berisi percakapannya dengan bot ChatGPT.

Perempuan milik akun @sarah.ai itu menginstruksikan bot untuk bertindak sebagai terapis, meminta dukungan hingga nasihat tentang apa yang harus dilakukan dalam situasi tertentu. Tapi, ia memulai video yang ia bagikan tersebut dengan sebuah pernyataan yang berani : "Jadi hari ini saya resmi berhenti dari sesi terapi karena sudah menemukan pengganti terbaik sekaligus gratis."

Keluar dari sesi terapi yang kerap dipatok dengan biaya tinggi seolah menjadi sebuah hal yang menggiurkan di Amerika Serikat. Saran yang diberikan pun tak dipungut biaya, alih-alih harus merogoh kocek dalam-dalam hingga US$400 atau Rp5,9 juta.

Dalam video sepanjang 2 menit tersebut, tampak jelas bahwa bot ChatGPT yang berinteraksi dengan @sarahl.ai menyebut bahwa ia mendapat dukungan dan saran. Tak lupa, ia juga lalu mengajukan pertanyaan lanjutan tentang kekhawatiran sang kreator dan menawarkan solusi yang memungkinkan. Alhasil, @sarahl.ai merekomendasikan agar pengikutnya juga melakukan hal serupa.

Namun, dalam video tersebut, bot ChatGPT terlihat masih merekomendasikan agar @sarahl.ai tetap mencari bantuan profesional jika kecemasan yang dialami penggunanya masih terasa luar biasa.


(Gambar : Ilustrasi Chat GPT)

Apa Ini Jadi Pertanda Buruk?

Respons bot ChatGPT yang diajak ngobrol tentang masalah kesehatan mental oleh @sarahl.ai sendiri memang tampak berjalan baik. Tapi, sejumlah pakar kesehatan mental setuju bahwa menggunakan AI sebagai pengganti terapi berformat tradisional belum menjadi pilihan yang aman.

Berbicara dengan Health.com dalam artikel yang terbit pada 13 Mei 2023 lalu, profesor psikiatri Stanford University yakni Bruce Arnow, PhD, mengatakan bahwa masih ada kekhawatiran ChatGPT atau chatbot AI lainnya memberi informasi yang tidak masuk akal atau tidak akurat saat menjawab pertanyaan pengguna.

Bruce meminta semua orang tetap menjaga pandangan skeptikal, sebab Chatbot AI sejak awal tidak dimaksudkan digunakan sebagai pengganti terapi, psikoterapi, atau intervensi kejiwaan apa pun.

Menurutnya, ChatGPT sendiri tetap rutin memperingatkan pengguna bahwa teknologi terkadang dapat menghasilkan informasi yang salah. Bahkan terkadang dapat menghasilkan instruksi berbahaya atau konten yang bias.

Sebagai pemberi saran? Bisa. Tapi tidak sebagai pengganti sesi terapi bersama psikiater yang sudah tahu luar dalam tentang para kliennya. Mulai dari kehidupan pribadi, state of mind (keadaan pikiran) hingga gangguan yang kerap dialami.


Baca Juga :


Terapis Chatbot AI Memiliki Potensi Tidak Aman

Di sisi lain, asisten profesor konselor pendidikan di University of West Georgia yakni Uwamahiro Williams menemukan bahwa ada beberapa masalah yang muncul hanya dari penggunaan AI sebagai pengganti terapis.

Salah satunya, terapis selama ini dilatih dan wajib mengantongi lisensi, yang berarti mereka harus mempertahankan standar praktik tertentu. Sedangkan AI tidak memiliki pedoman yang sama.

Alhasil, Williams khawatir jika pengguna chatbot untuk perkara kejiwaan tersebut mengalami sesuatu, maka pertanggung jawabannya akan sulit.

Lebih jauh, penggunaan AI sebagai pengganti terapis tradisional dapat menjadi masalah untuk perkara privasi, hal yang lekat dengan gangguan siber. Dalam kasus ChatGPT, situs tersebut mengumpulkan dan merekam percakapan, yang (menurut pernyataan pengembang) digunakan untuk melatih AI agar bisa merespons lebih baik. Pengguna sendiri dapat memilih keluar (logout) dari ChatGPT, menghapus akun atau menghapus percakapan mereka dari sistem setelah 30 hari.

Namun, masih ada kekhawatiran lain. Saran dari bot dapat disalahartikan oleh orang yang mencari bantuan dan justru dapat memperburuk keadaan dalam jangka panjang.

Meski begitu, masalah utamanya tetap satu: AI secara kodrat tetaplah buatan manusia. Dilansir oleh Health.com, Russell Fulmer, PhD, profesor dan direktur konseling di Universitas Husson, negara bagian Maine, Amerika Serikat, menyebut bahwa ChatGPT dan bot AI lain punya satu kekurangan mencolok: ia tidak akan pernah bisa menjadi manusia.

AI mungkin bekerja baik saat mengumpulkan informasi dan mengolahnya menjadi saran untuk para pengguna. Tapi, senada dengan yang dikatakan Uwamahoro Williams, AI tidak memiliki kemampuan untuk mengenal manusia secara khusus sebagai individu yang unik dan melakukan interaksi emosional.


(Gambar : Ilustrasi seorang sedang klien berbicara dengan psikiater.)

Potensi Menjadi Pembantu Psikiater

Memang, faktor membangun kedekatan emosional ala psikiater dan kliennya mungkin sulit dicapai oleh AI. Tapi, Uwamahoro Williams berpendapat bahwa kecerdasan buatan tetap berpotensi digunakan sebagai pembantu terapi kejiwaan dalam format tradisional.

Lebih jauh, ngobrol dengan AI bahkan dapat dianggap bisa berfungsi bagus selain terapi. Mirip dengan journalling alias mencatat segala yang dipikirkan pasien, atau meditasi.

Untuk sekarang, ChatGPT mungkin berguna dalam membantu orang memeriksa diri mereka sendiri terkait gangguan kesehatan mental. Bot bisa memandu seseorang (melalui penjabaran gejala umum) untuk memutuskan apakah dia memerlukan bantuan atau diagnosis profesional.

AI juga bisa membantu melatih para psikiater baru dan membantu psikolog mempelajari lebih lanjut tentang strategi mana yang paling efektif alias menjadi simulasi latihan

Bertahun-tahun ke depan, seiring kemajuan AI, mungkin akan lahir lebih banyak aplikasi dengan fokus utama yakni terapi kejiwaan. Tapi, Fulmer menegaskan bahwa itu mungkin tidak cocok bagi semua orang.

Meski begitu, tidak semua peneliti kejiwaan bersikap anti-AI. Kelompok peneliti dari University of California, dalam artikel jurnal berjudul Artificial Intelligence for Mental Health and Mental Illnesses: An Overview (2019)menyebut bahwa perkembangan AI dalam penanganan kesehatan mental sangat menjanjikan.

Mereka bahkan berkesimpulan bahwa peneliti dan praktisi harus mengambil peran aktif dalam menginformasikan pengenalan AI ke dalam perawatan klinis. Caranya dengan "meminjamkan" keahlian klinis dan berkolaborasi dengan ilmuwan data dan komputasi, serta pakar lainnya, untuk membantu mengubah praktik kesehatan mental dan meningkatkan pelayanan kepada pasien.

Penggunaan AI dalam bidang kesehatan, terkhusus kesehatan mental, agaknya akan terus menyulut perdebatan selama beberapa tahun ke depan. Tapi, semuanya terkait sudut pandang saja, apakah melihat AI sebagai pembantu serba bisa atau ancaman nyata bagi kelangsungan sebuah profesi.


Referensi :

Davenport, T., & Kalakota, R. (2019). The potential for artificial intelligence in healthcare. Future healthcare journal, 6(2), 94–98. https://doi.org/10.7861/futurehosp.6-2-94

Secinaro, S., Calandra, D., Secinaro, A., Muthurangu, V., & Biancone, P. (2021). The role of Artificial Intelligence in healthcare: A structured literature review. BMC Medical Informatics and Decision Making, 21(1). https://doi.org/10.1186/s12911-021-01488-9 

Graham, S., Depp, C., Lee, E. E., Nebeker, C., Tu, X., Kim, H. C., & Jeste, D. V. (2019). Artificial Intelligence for Mental Health and Mental Illnesses: an Overview. Current psychiatry reports, 21(11), 116. https://doi.org/10.1007/s11920-019-1094-0

D’Alfonso, S. (2020). Ai in mental health. Current Opinion in Psychology, 36, 112–117. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2020.04.005 

Landwehr, J. (2023, May 13). People are using CHATGPT in place of therapy-what do mental health experts think?. Health. https://www.health.com/chatgpt-therapy-mental-health-experts-weigh-in-7488513 

Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaMenstruasi Neonatus: Fisiologis atau Patologis?

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar