sejawat indonesia

Merawat Sekolah Medis dengan Akal Sehat

Sebuah karya Hippocrates, Corpus Hippocratium, pada masa lampau berhasil mengguncang cara berpikir manusia tentang sebab terjadi penyakit. Cara berpikir syamanisme dan religius roboh. Perkembangan dunia kedokteran membelah dan menjadi intrumen-instrumen berjiwa mekanistik.

Narasi-narasi peradaban kesehatan hari ini beralur dari apa yang dikonsepkan oleh Hippocrates. Lepasnya dunia kedokteran dari cerita-cerita bahwa sakit disebabkan oleh kutukan para dewa akan ketidaksenangan mereka pada ulah umat manusia, sirna. Ataupun, adanya kekuatan jahat yang masuk ke tubuh manusia, sehingga perlu diadakan persembahan, tidak lagi menjadi sesuatu yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya tanpa mempersoalkan kebenaran faktual.

Kita sebagai penikmat kisah Hippocrates tidak akan pernah tahu semangat apa yang mendorong hingga Corpus Hippocratium itu lahir. Mari mendirikan sebuah kecurigaan bahwa sesungguhnya seorang Hippocrates memiliki curious (naluri ingin tahu) sebagai modal utama untuk mencari tahu cara mempertahankan hidup dari sebuah gangguan fungsi tubuh.

Metode memahami gangguan fungsi tubuh manusia oleh Hippocrates saat itu belum dibangun oleh kecanggihan teknologi dan juga belum lahirnya komersialisasi pendidikan kedokteran seperti saat sekarang.

Dalam beberapa dekade terakhir, pendidikan kedokteran adalah surganya para pelanjut sekolah. Walaupun dengan passing grade tertinggi, pendidikan kedokteran menjadi primadona dengan peminat selalu berada di urutan teratas. Maka, tidak mengherankan jika muncul pertanyaan: mengapa hal ini berlangsung terus-menerus, serta apakah perlu ada sabuk pengaman?

Joseph E. Stiglitz, seorang ahli ekonomi asal Amerika Serikat, berujar dengan tegas bahwa kalau ada hal terpenting dalam hidup manusia, hanya satu, itu adalah pekerjaan. Mau tidak mau dalam urusan ini yang paling menentukan adalah jenjang pendidikan seseorang. Tidak terlalu salah jikalau kita katakan tanpa pendidikan, anda tidak memiliki masa depan.

Taruhlah masa depan adalah sebuah mimpi. Dia yang bisa membuat orang bekerja keras. Sebuah mimpi yang tidak hadir begitu saja, melainkan punya kekuatan untuk memengaruhi. Dia adalah konstruksi sosial masyarakat tentang pekerjaan apa saja yang paling ideal pada masa tertentu di tempat tertentu. Begitulah yang ditulis oleh Nurhady Sirimorok di dalam bukunya berjudul Laskar Pemimpi.

Oleh karena itu, jangan heran banyak anak-anak saat mengungkapkan cita-citanya, mereka ingin menjadi seorang dokter. Seakan, tiba-tiba saja, bagi mereka ketika melihat pemeluk profesi ini, mendatangkan keagungan, kemuliaan, bahkan digelari kata malaikat. Belum lagi, jompangnya permasalahan kesehatan di daerah, serta melekatnya citra janji hidup makmur sontak membuat dokter seakan menjadi barang langka dan harus diperebutkan bagaimana pun caranya.

Padahal, meminjam apa yang ditulis oleh Thomas Kuhn dalam tulisannya berjudul The Structure Scientific Revolution bahwa kedokteran sekarang memasuki suatu periode "ketidakstabilan paradigmatis”. Sebuah babak di mana para dokter perlu meninjau kembali apa yang sedang dilakukan dan mempertimbangkan kembali peran dan tanggung jawab mereka terhadap pasien dan masyarakat. Dalam hal ini, entah itu malpraktek ataupun masalah etik medik lainnya.

Bagaimana pun juga pekerjaan rumah besar menanti di beranda depan sekolah medis bangsa ini. Membentuk calon dokter hanya untuk mengatasi ketertinggalan pasokan dokter yang sesuai dengan kebutuhan pasar kesehatan bukan perkara mudah. Pasalnya, jika tidak dibangun dengan humanisme, kelak yang akan dipanen bisa saja dokter yang bekerja seperti robot yang berpikir tubuh manusia adalah selayaknya mesin.

Sekali lagi, memilih bidang studi dan jenjang pendidikan, jelas tidak sama dengan memilih barang. Bagi mereka yang kelak ingin menjadi dokter, siap-siap bertanya kepada dirimu, kau ingin menjadi dokter atau kau ingin menjadi seperti dokter.

Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaPengobatan Mental Disorder: Psikofarmaka Mana yang Sesuai?

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar