Dengvaxia, Vaksin Dengue dan Isu Keamanannya

Sejak tahun 2016, vaksin demam berdarah dengue, Dengvaxia (CYD-TVD) telah diberi izin edar oleh Badan Pengelola Obat dan Makanan (BPOM). Vaksin dengue pertama ini adalah vaksin rekombinan hidup tetravalent yang dikembangkan oleh Sanofi Pasteur. Vaksin ini diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam pencegahan demam berdarah dengue dan menurunkan beban penyakit ini secara global.

WHO merekomendasikan penggunaan vaksin demam berdarah dengue pada area endemik demam berdarah, pada individu dengan umur 9-45 tahun, diberikan dalam tiga seri dosis, di bulan nol, bulan ke enam setelah dosis pertama, dan satu dosis lagi enam bulan setelahnya.

Dengvaxia dibuat berdasarkan pemahaman yang sama dengan pemahaman mengenai dasar vaksin penyakit demam kuning, dan memberi perlindungan terhadap keempat serotipe virus dengue. Vaksin ini dievaluasi pada dua pusat uji coba fase III. Satu uji coba dilakukan di Asia di antara 10.000 anak berumur 2 sampai 14 tahun, dan uji coba lainnya dilakukan di Amerika Latin, di antara 21.000 anak berumur 9 sampai 16 tahun.

Asia Pasifik

Lima negara terlibat dalam uji coba fase III di Asia. Terdapat tiga pusat uji coba di Indonesia, dua pusat uji coba di Malaysia, dua pusat uji coba di Filipina, tiga pusat uji coba di Thailand, dan dua pusat di Vietnam.

Peserta uji coba terdiri dari 10.275 anak, yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menerima vaksin, dan kelompok yang menerima plasebo. Seluruh partisipan melakukan lima kali kunjungan, pada bulan 0, 6, dan 12 untuk menerima vaksinasi, dan bulan 13 dan 25 untuk pengamatan lanjutan. Kemudian pada bulan ke-18, para peserta mendapatkan pengamatan lanjutan dengan kunjungan rumah atau melalui telepon. Sampel darah dari peserta juga diperiksa pada bulan ke-13. Hasil yang didapatkan pada uji coba ini menunjukkan bahwa vaksin efektif dan juga aman.

Vaksinasi dapat mengurangi insidensi dari infeksi yang simtomatik dan angka rawat inap. Efektifitas virus lebih tinggi pada partisipan dengan antibodi penetral yang telah ada sebelumnya dibandingkan dengan partisipan yang seronegatif, dan juga lebih efektif pada mereka dengan usia yang lebih tua.

Amerika Latin

Uji coba di Amerika Latin melibatkan 20.869 anak dari usia 9 sampai 16 tahun, berlangsung sejak Juni 2011 sampai Maret 2012, dan diadakan pada 22 total pusat uji coba di Kolombia (9 pusat), Brasil (5 pusat), Meksiko (5 pusat), Puerto Riko (2 pusat), dan Honduras (1 pusat). Lima negara tersebut dipilih berdasarkan angka kejadian dengue yang terbanyak di Amerika Latin.

Metode yang digunakan mirip dengan uji coba yang sama pada Asia Pasifik, dimana seluruh peserta terbagi menjadi penerima vaksin dan penerima plasebo, yang kemudian menerima tiga dosis pada bulan 0, 6, dan 12. Pada uji coba ini, penemuan kemanjuran vaksin ditemukan sejalan dan konsisten dengan uji coba yang dilakukan di Asia Pasifik.

Kemanjuran Jangka Panjang

Setelah uji coba klinis fase III dari Dengvaxia, pengamatan lanjutan dilakukan pada tahun ke-3 sampai tahun ke-6 untuk menilai aspek keamanan dari vaksin. Partisipan melakukan kunjungan ke klinik sebanyak satu kali dalam satu tahun, dengan kontak reguler sebanyak lebih dari satu kali di antara waktu kunjungan. Kontak dilakukan melalui kunjungan rumah, telepon, atau pesan singkat. Terjadinya rawat inap pada peserta akibat demam akut, direkam, juga berbagai macam laporan dari pasien sendiri. Sampel darah dikumpulkan saat terjadi fase akut dari infeksi sebagai konfirmasi dari infeksi dengue.

Hasil dari pengamatan lanjutan menunjukkan bahwa terjadi insidensi rawat inap yang lebih tinggi di tahun ke-3 diantara anak berumur kurang dari 9 tahun. Alasan terjadinya hal ini belum diketahui dengan jelas, dan masih membutuhkan pengawasan yang lebih berhati-hati saat diamati lebih lanjut. Walau begitu, risiko rawat inap untuk anak di kelompok kontrol penerima vaksin di umur 2 sampai 16 tahun lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang menerima plasebo di grup kontrol.

Dengvaxia di Indonesia

Di Indonesia, angka kematian akibat demam berdarah dengue adalah 1,2 per tahun per 100.000 penduduk, dan Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah penderita di Indonesia pada bulan Januari-Februari 2016 sebanyak 8.847 orang penderita dengan jumlah kematian 108 orang. Golongan terbanyak yang mengalaminya yang berada pada usia 5-14 tahun mencapai 43,44% dan usia 15-44 tahun mencapai 33,25%.

WHO telah menetapkan sasaran untuk mengurangi morbiditas dengue paling tidak 25% dan mengurangi angka mortalitas sampai paling tidak 50% pada tahun 2020. Indonesia adalah negara kedua di Asia dan ketujuh di dunia yang memberi izin edar kepada vaksin dengue untuk digunakan di daerah endemik demam berdarah dengue.

Harga jual dari Dengvaxia sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun tentu saja harga jual akan memberi pengaruh terhadap distribusi dari vaksin dan apakah pemberiannya akan dilakukan secara massal pada daerah endemik demam berdarah dengue. Keberadaan vaksin dengue di negara ini diharapkan dapat menurunkan kejadian demam berdarah dengue, bersama dengan metode-metode pencegahan lainnya.

Meski vaksin ini belum termasuk ke dalam program imunisasi nasional karena harganya yang terbilang mahal, vaksin Dengvaxia sudah lulus uji klinis fase 3 dari tahun 2017 dan terbukti aman dan efektif dalam mencegah penyakit DBD. Namun, ternyata vaksin ini sempat diterpa isu pada tahun 2017 tentang pernyataan produsen vaksin terdapat kemungkinan dengue berat pada pasien yang belum pernah terinfeksi dengue sebelumnya.

Tahun yang sama, Filipina melaporkan tiga kasus kematian terkait dengan vaksin dengue. Hal tersebut menimbulkan keresahan di masyarakat mengenai profil keamanan vaksin dengue. Menindaklanjuti isu keamanan vaksin dengue (Dengvaxia), Badan POM RI telah melakukan re-evaluasi keamanan dan manfaat tersebut dengan memperhatikan hasil studi terbaru dari data keamanan penggunaan vaksin Dengvaxia di Indonesia dan hasil evaluasi yang dilakukan oleh WHO serta rekomendasi IDAI.

Hasil re-evaluasi menunjukkan bahwa pemberian vaksin Dengvaxia pada individu yang belum pernah terinfeksi virus dengue sebelumnya (seronegatif) dapat menyebabkan demam berdarah dengue berat dan peningkatan risiko rawat inap yang lebih tinggi, dibandingkan dengan individu seronegatif yang tidak diberikan vaksin (plasebo). Selain itu, pada anak usia ≥ 9 tahun, khasiat vaksin pada individu seronegatif lebih kecil dibandingkan individu yang sudah pernah terinfeksi dengue. Vaksin Dengvaxia memberikan khasiat baik pada individu yang sudah pernah terinfeksi virus dengue sebelumnya (seropositif) dengan usia 9-16 tahun. Dari hasil evaluasi, Badan POM RI memutuskan hal-hal sebagai berikut:

  1. Vaksin Dengvaxia dapat digunakan untuk mengurangi risiko kejadian dan keparahan demam berdarah dengue pada anak usia 9-16 tahun yang sebelumnya sudah pernah terinfeksi virus dengue (seropositif).
  2. Vaksin Dengvaxia tidak boleh digunakan pada individu yang belum pernah terinfeksi virus dengue (seropositif).
Badan POM RI telah memberikan instruksi kepada perusahaan khusus untuk memantau secara ketat penggunaan vaksin Dengvaxia di Indonesia, terutama pada pasien yang telah teridentifikasi menerima vaksin Dengvaxia.

Sampai saat ini, tidak ada laporan efek samping vaksin Dengvaxia yang diterima oleh Badan POM RI. Namun dalam rangka kehati-hatian Badan POM RI mengimbau Sejawat Kesehatan Profesional dan semua pihak yang terkait, agar mengedepankan kehati-hatian dan mengutamakan keselamatan pasien dalam mempertimbangkan pemberian vaksin ini kepada pasien.  

Sumber:
https://www.pom.go.id/new/view/more/klarifikasi/79/PENJELASAN-BADAN-POM-RI-----TERKAIT--ISU-KEAMANAN-VAKSIN-DENGUE--DEMAM-BERDARAH-.html
 

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaNyamuk: Sang Kurir Penyakit Infeksi