sejawat indonesia

Mengenal Masalah Umum pada Mata dan Cara Mendeteksinya

Populasi yang semakin menua, meningkatnya harapan hidup, dan perubahan gaya hidup yang tidak menguntungkan (seperti kebiasaan makan yang tidak sehat dan penurunan aktivitas tubuh macam olahraga) menyebabkan prevalensi penyakit yang mengancam penglihatan di masa depan cenderung meningkat. Penurunan ketajaman visual dapat secara signifikan memengaruhi kualitas hidup seseorang bahkan sebelum individu tersebut menjadi tunanetra (VA ≤ 0,25, Snellen desimal setara). 

Sebuah survei baru-baru ini menunjukkan hampir setengah dari orang dewasa Amerika Serikat lebih khawatir dengan kebutaan daripada kehilangan ingatan mereka, atau kemampuan mereka untuk berjalan atau mendengar. Tapi, hampir 30% dari mereka yang disurvei mengaku tidak memeriksakan matanya.

Dalam tulisan ini, dibahas tentang beberapa penyakit mata yang paling umum dan beberapa cara untuk mendeteksinya. Ini termasuk penyakit mata ringan seperti mata merah, dan juga kondisi mata yang lebih serius yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan, seperti degenerasi makula dan glaukoma.


Glaukoma


Glaukoma mengacu pada sekelompok penyakit mata yang menyebabkan peningkatan tekanan intraorbita. Peningkatan tekanan memengaruhi saraf optik dan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.

Glaukoma dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis utama. Pertama adalah sudut terbuka, yang lebih umum serta berkembang lebih lambat. Dan kedua yakni sudut tertutup, yang muncul tiba-tiba dan menyakitkan. Tanpa pengobatan, kedua jenis dapat menyebabkan masalah penglihatan dan kebutaan.

Pada fase awal, glaukoma seringkali tidak memiliki gejala. Pada saat penglihatan terpengaruh, kerusakan bersifat permanen. Perkembangan glaukoma dapat diperlambat atau dihentikan dengan obat tetes mata, perawatan laser, atau pembedahan. Sehingga, diagnosis dini adalah kuncinya.

Katarak


Katarak merupakan salah satu masalah mata yang paling umum di kalangan manula (manusia lanjut usia). Katarak adalah lensa keruh tanpa rasa sakit di mata yang menyebabkan penglihatan kabur. Perkembangan katarak dapat menyebabkan masalah penglihatan dan kehilangan penglihatan.

Katarak berkembang perlahan seiring bertambahnya usia. Kebanyakan orang mencapai usia pertengahan 70-an akan mengalami beberapa perubahan seperti katarak pada kornea mereka. Selain penuaan, penyebab katarak termasuk diabetes, trauma, beberapa obat, dan paparan sinar UV yang berlebihan.

Tenaga kesehatan melihat katarak saat melakukan pemeriksaan mata rutin. Perawatan untuk katarak termasuk kacamata, lensa pembesar, dan operasi. Pembedahan bersifat kuratif karena lensa yang keruh diangkat dan diganti dengan lensa buatan.

Degenerasi Makula


Degenerasi makula terkait usia adalah penyakit mata yang dapat dimulai pada usia berapa pun, tetapi biasanya berkembang setelah usia 60 tahun. Kondisi mata ini secara progresif menghancurkan makula, yang berada di bagian tengah retina yang berfungsi untuk mengatur fokus penglihatan. Kondisi ini jarang menyebabkan kebutaan total karena kerusakan hanya berpusat pada penglihatan.

Degenerasi makula terdapat dua jenis: basah dan kering. Pada degenerasi makula basah, pembuluh darah abnormal di belakang retina mulai tumbuh, mengeluarkan darah dan cairan, menyebabkan hilangnya penglihatan sentral, yang dapat terjadi dengan cepat. Pada degenerasi makula kering, sel-sel peka cahaya di makula perlahan-lahan rusak menyebabkan penglihatan sentral berkurang seiring waktu.

Retinal Detachment


Retinal detachment atau yang lebih dikenal dengan ablasio retina terjadi ketika retina (jaringan di belakang mata) terpisah (melepas) dari struktur di bawahnya. Penumpukan cairan di belakang retina inilah yang memisahkan retina dari bagian belakang mata.

Pelepasan retina seringkali tidak menimbulkan rasa sakit dan gejala yang dipersepsikan seperti melihat lampu berkedip, floaters, atau tirai yang menutupi bidang visual penglihatan. Faktor risiko ablasi retina termasuk orang dewasa rabun jauh usia 25 sampai 50 tahun, atau orang tua setelah operasi katarak.

Perawatan untuk retina melibatkan pembedahan, sebagian besar menggunakan laser, yang dapat meningkatkan penglihatan yang dipengaruhi oleh pelepasan retina.

Konjungtivitis


Konjungtivitis atau mata merah adalah penyakit mata yang menyebabkan kemerahan dan peradangan pada jaringan bening yang menutupi mata dan bagian dalam kelopak mata (konjungtiva). Hal ini umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus tetapi mungkin juga karena iritasi (bahan kimia, polutan, atau alergen).

Sebagian besar kasus konjungtivitis dapat menular dan biasanya disebabkan oleh virus sehingga tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Konjungtivitis bakteri dapat diobati dengan tetes antibiotik atau salep yang diresepkan.

Kotoran yang berkerak dapat membuat kelopak mata sulit dibuka. Jika ini terjadi, kompres hangat dan basah dapat diterapkan pada mata untuk menghilangkan pengerasan kulit dengan lembut.

Uveitis


Uveitis adalah peradangan pada lapisan tengah mata (uvea). Uvea adalah lapisan mata yang berisi arteri dan vena yang memberi makan struktur penting yang digunakan dalam penglihatan.

Penyebab uveitis termasuk trauma atau cedera pada mata, infeksi, atau penyakit reumatologi atau peradangan yang memengaruhi bagian lain dari tubuh. Gejala utama uveitis adalah nyeri pada bola mata.

Mata akan terlihat merah (merah darah) dan mungkin juga disertai dengan penglihatan kabur, sensitif terhadap cahaya, dan bintik-bintik dalam penglihatan. Pengobatan uveitis tergantung pada penyebabnya. Tetes anti-inflamasi atau antibiotik, bersama dengan obat nyeri dapat diresepkan.

Alergi pada Mata


Alergi mata yang parah dapat menyebabkan kerusakan pada mata yang dapat mengancam penglihatan. Alergi dapat menyebabkan peradangan kronis yang dapat merusak kornea secara permanen. Penyebab alergi mata biasanya karena alergi musiman, kepekaan terhadap  bahan kosmetika tertentu atau obat-obatan, serta debu.

Blefaritis


Blefaritis adalah peradangan pada kelopak mata. Peradangan dapat ditemukan pada kelopak mata bagian luar (anterior) atau bagian dalam (posterior) dan gejalanya meliputi rasa terbakar, gatal, bengkak, kulit terkelupas di pangkal bulu mata, pengerasan kelopak mata, robek, atau penglihatan kabur.

Penyebab umum blepharitis adalah masalah dengan kelenjar minyak di dasar kelopak mata, infeksi, atau kondisi kulit lainnya. Perawatan termasuk kebersihan kelopak mata yang baik, termasuk sering membersihkan, menggosok ringan, menggunakan campuran air dan sampo bayi. Kasus blepharitis yang parah memerlukan antibiotik atau steroid.

Kalazion (Kista Kelopak Mata)


Chalazion (juga disebut kista meibom, kista tarsal, atau granuloma konjungtiva) adalah peradangan kelenjar kista kecil di kelopak mata. Pembukaan kelenjar menjadi tersumbat dan kelenjar membengkak.

Kalazion diobati dengan kompres hangat, meskipun dalam kasus yang jarang memerlukan antibiotik. Jika chalazion menjadi parah, menyebabkan perubahan penglihatan atau berlangsung terus-menerus, dapat diangkat melalui pembedahan.

Ulkus Kornea


Ulkus kornea adalah kondisi mata yang umum terjadi. Kelainan terjadi pada kawah kecil (ulkus) di bagian depan mata, biasanya setelah infeksi. Bakteri, virus, atau jamur dapat menyebabkan ulkus kornea.

Orang yang memakai lensa kontak berisiko lebih tinggi terkena ulkus kornea, karena agen infeksi terjebak di belakang lensa. Orang yang kekurangan vitamin A sangat rentan terhadap ulkus kornea.

  • Gejala ulkus kornea meliputi:
  • Rasa sakit,
  • Kemerahan yang intens,
  • Merasa seolah-olah mata tergores atau ada sesuatu di mata,
  • Kepekaan terhadap cahaya, dan
  • Pandangan yang kabur.

Antibiotik potensi tinggi dan obat nyeri adalah perawatan terbaik untuk kondisi ini.

Retinopati Diabetik


Seseorang dengan diabetes sering memiliki masalah dengan pembuluh darah mereka di seluruh tubuh tanpa terkecuali mata. Diabetes bisa datang dengan komplikasi, seperti retinopati diabetik. Masalah mata ini memengaruhi pembuluh darah di bagian belakang mata, yakni retina.

Ada dua jenis retinopati diabetik:

  1. Retinopati nonproliferatif, jenis yang lebih stabil di mana terdapat perdarahan di retina dan kebocoran darah atau serum yang menyebabkan "retina basah."
  2. Retinopati proliferatif, jenis yang lebih parah di mana pembuluh darah abnormal baru tumbuh di retina. Pembuluh darah ini dapat berdarah ke dalam vitreous (jeli bening di tengah mata) dan menyebabkan masalah penglihatan.

Perawatan melibatkan operasi laser tetapi kerusakan terjadi secara permanen. Cara terbaik untuk mencegah retinopati diabetik adalah dengan kontrol glukosa darah yang ketat dan gaya hidup sehat (penurunan berat badan, diet, dan olahraga).

Rabun Dekat (Hiperopia)


Rabun jauh adalah kesulitan fokus pada objek yang dekat. Tingkat insidensi hyperopia sangat umum dan meningkat seiring bertambahnya usia. Hal ini disebabkan oleh kornea datar abnormal yang tidak memungkinkan cahaya untuk fokus tajam pada retina. Kacamata, lensa kontak, atau pembedahan dapat digunakan untuk mengoreksi hiperopia.

Rabun Jauh (Miopia)


Rabun jauh (miopia) menyebabkan orang tidak dapat melihat objek yang jauh, meskipun mereka dapat melihat objek di dekatnya dengan jelas. Hal ini disebabkan oleh kelengkungan kornea yang terlalu banyak, yang mengakibatkan masalah dengan fokus pada retina. Miopia sangat umum dan mudah dikoreksi dengan kacamata, lensa kontak, atau operasi.


Perawatan pada layanan primer harus menekankan pengetahuan mendalam tentang kondisi peradangan mata, trauma mata, gangguan penglihatan, dan masalah kelopak mata, karena area ini mencakup lebih dari 85% masalah mata yang dapat ditemukan, oleh dokter di layanan primer.

Gangguan penglihatan merupakan beban besar bagi individu dan keluarganya. Dalam banyak kasus, manajemen yang benar dan rujukan dini untuk masalah mata dapat mencegah kebutaan.

Cari tahu lebih banyak tentang penanganan gangguan mata pada anak bersama ahlinya melalui Live CME Webinar Management of Common Pediatric Eye Problems.


Penulis : Suci Sasmita S.Ked

Referensi :

  • Wani, M. G., & Karinga, L. (2017). Management of common eye conditions in a primary health care setting: A guide for south sudan health workers. South Sudan Medical Journal. Retrieved July 15, 2022, from http://www.southsudanmedicaljournal.com/archive/february-2017/management-of-common-eye-conditions-in-a-primary-health-care-setting-a-guide-for-south-sudan-health-workers.html
  • Purola, P., Nättinen, J. E., Ojamo, M., Koskinen, S., Rissanen, H. A., Sainio, P., & Uusitalo, H. (2021). Prevalence and 11-year incidence of common eye diseases and their relation to health-related quality of life, mental health, and visual impairment. Quality of life research : an international journal of quality of life aspects of treatment, care and rehabilitation, 30(8), 2311–2327. https://doi.org/10.1007/s11136-021-02817-1 
  • Davis, C. P. (2020, October 13). Recognize these common eye problems. OnHealth. Retrieved July 15, 2022, from https://www.onhealth.com/content/1/common_eye_conditions 
Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaApakah Sumpah Hippokrates Sudah Tak Relevan dan Perlu Direvisi?

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar