sejawat indonesia

Neuroinvasive dari SARS-Coronavirus

Darurat kesehatan yang mula-mula dicetuskan di Wuhan, Cina pada akhir 2019 telah menjadi darurat kesehatan secara global. SARS-Coronavirus dikatakan sebagai patogen dalam sistem pernapasan adalah hal yang diyakini secara global pula. Hanya saja, pada laporan kasus yang dirilis maret 2020 di International Journal of Infection Disease. Menyatakan bahwa SARS-CoV-2 dapat memiliki potensi neuroinvasive, karena adanya gejala-gajala neurologis yang ditemukan pada pasien, seperti sakit kepala, mual, dan muntah. Pasien laki-laki berusia 24 tahun, datang ke dokter dengan keluhan sakit kepala, kelelahan dan demam pada akhir Februari 2020. Pada hari berikutnya, pasien melakukan konsultasi pada dokter yang berbeda, oleh dokter tersebut diresepkan laninamivir dan antipiretik dengan diagnose influenza. Karena gejala yang dirasakan pasien memburuk, pasien konsultasi pada dokter yang berbeda, pemeriksaan yang dianjurkan yaitu foto thorax dan tes darah, hasilnya tidak ditemukan adanya kelainan. sembilan hari setelah pemeriksaan terakhir, pasien ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri. Pasien kemudian diambulasi menuju rumah sakit terdekat, di perjalanan pasien mengalami kejang kurang lebih satu menit. Di Rumah Sakit, pasien dengan tingkat kesadaran Glasgow coma scale (GCS) enam (E4 V1 M1) dengan hemodinamik stabil. Keluhan objektif yang didapatkan adanya kaku kuduk positif. Pada pemeriksaan penunjang adanya kelainan bermakna pada leukosit yang meningkat di mana jumlah Neutrofil lebih banyak dibandingkan dengan jumlah limfosit, Protein C-Reaktif meningkat dan pada pemeriksaan CT- Thorax adanya Ground-glass opacification pada lobus superior dan kedua sisi pada lobus inferior. Pada pungsi lumbal dengan hasil makroskopik yaitu jernih dan tidak berwarna. Namun, jumlah sel CSF yaitu 12/mL -10 sel MN dan 2 sel PMN tanpa eritrosit. Selanjutnya, pada pemeriksaan RT-PCR Swab Nasofaring tidak ditemukan adanya SARS-CoV-2 RNA, sedangkan pada  RT- PCR Cairan Serebrospinal (CSF) positif dengan adanya SARS- CoV-2 RNA. Pasien mendapatkan perawatan darurat di ruangan intensif care unit (ICU) dengan diagnosis klinis meningitis dan pneumonia virus, kemudian mendapatkan tatalaksana farmakologi di antaranya seftriaxone intravena, vankomisi, asiklovir, steroid, levitiracetam intravena, favipiravir secara NGT selama 10 hari. Pada pemeriksaan lanjutan dilakukan 20 jam setelah masuk ICU yaitu Magnetic Resonance Imaging (MRI). Diffusion Weighted Imaging (DWI) divisualisasikan hiperintensitas di sepanjang dinding tanduk inferior ventrikel lateral kanan. Fluid Attenuated Inversion Recovery (FLAIR) menunjukkkan adanya sinyal hiperintensitas pada lobus temporalis mesial kanan dan hipokampus mengalami atrofi, dan pada T2-weighted menunjukkan sinusitis paranasal. Hingga, pada hari ke lima belas, pengobatan dilanjutkan dengan diagnosis pneumonia bacterial dan gangguan kesadaran akibat ensefalitis dengan causa SARS- CoV-2. Pengujian diagnostic dalam kasus ini, SARS-Cov-2 diekstraksi dari sepsimen klinis menggunakan magLEAD 6 gC. SARS-Cov-2 RNA dideteksi menggunakan AgPath-IDTM One-Step RT-PCR Reagents di CobasZ480. Ditemukannya kasus ini dari gejala awal pasien sampai dengan ditegakannya diagnosis menerangkan bahwa, keyakinan global akan SARS-Cov-2 bukan hanya pathogen pada system pernapasan, melainkan memilki potensi sebagai pathogen pada system saraf. Severe Acute Respiratory Syndrom (SARS) dan SARS-CoV diisolasi sebagai pathogen dalam pengelompokan satu family, oleh karena dalam sebuah penemuan menunjukkan bahwa rangkaian genom SARS- Cov terdeteksi di otak manusia pada otopsi SARS dengan RT- PCR. Sebuah study mengklaim bahwa urutan genom serupa pada  SARS- CoV-2 terutama pada domain pengikat reseptor hal inilah yang menyebabkan SARS-CoV dan SARS-CoV-2 shares ACE2 as a receptors. Sehingga dapat menyerang tempat yang sama yaitu pada otak manusia. Meningoensephalitis adalah inflamasi jaringan otak yang disebabkan oleh virus, paling sering disebabkan oleh herpes virus, disusul Varicella zoster virus, Cytomegalovirus (CMV), Epstein-Barr virus (EBV), Human Herpes virs 6 (HHV6), Adenovirus, tanpa menafikkan bahwa SARS-Cov-2 adalah salah satu etiologi yang penting menjadi pertimbangan dalam menentukan penyabab dari meningioensephalitis. Dengan membawa pertimpangan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Kennedy tentang Viral Ensephalitis menyatakan bahwa sekitar 30 -50% dari kasus encephalitis tidak deketahui penyebab pastinya. Gejala yang dapat obeservasi pada kasus infeksi saraf pusat, seperti gejala flu yang akut, demam tinggi, mual, muntah, kejang, penurunan kesadaran. Pemeriksaan fisis yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan ransang menings diantaranya, kaku kuduk, kering sign, brudzinski 1- 4. Dan pemerikaan lanjutan dapat dilakukan pungsi lumbal, pencitraan seperti CT-Scan atau MRI Kepala dan Electroencephalography (EEG).      
Referensi:
https://doi.org/10.1016/j.ijid.2020.03.062
1201-9712/© 2020 The Author(s). Published by Elsevier Ltd on behalf of International Society for Infectious Diseases. 
This is an open access article under the CC BY-NC-ND license (http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/).
Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaPolemik RUU Pendidikan Kedokteran Antara Kualitas dan Kuantitas Yang Tidak Searah

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar