Selain Hewan Ternak, Apakah Virus PMK juga Mengancam Manusia?

Sejak awal bulan Juni lalu, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang ratusan ribu hewan ternak di Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kementerian Pertanian (Kementan) pada hari Jumat 24 Juni 2022, total ada 19 provinsi yang melaporkan kasus PMK, dan tersebar di 219 kabupaten dan kota.

Lebih jauh, jumlah ternak yang tertular mencapai 235.739 ekor. Sebanyak 77,329 (32,75 persen) sudah sembuh, dan 1.339 (0,56 persen) di antaranya mati. Upaya vaksinasi yang dilakukan oleh Kementan baru menyasar 3.174 ekor, atau masih di angka 1,34 persen.

Kabar tentang meroketnya kasus PMK ternyata mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, Indonesia sudah dinyatakan bebas dari PMK pada 1986, atau lebih dari tiga dekade silam. Dilansir oleh Bisnis.com pada Kamis 23 Juni 2022, Kementan mengaku masih melakukan investigasi perihal asal muasal PMK.

Di sisi lain, melalui keterangan tertulis, Guru besar Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya yakni Prof. Hendrawan Soetanto menyebut bahwa terbukanya impor hewan jadi biang keladi. Ia menjelaskan bahwa penularan virus PMK bisa dalam bentuk kontak langsung atau melalui produk hewan/pertanian yang diimpor dari negara yang belum bebas PMK dari hewan ke hewan.

Meski grafik kasus hariannya mulai menunjukkan tren penurunan, PMK ternyata membuat sebagian orang was-was, tak cuma mereka yang mata pencahariannya bergantung dari dunia peternakan. Rupanya terbersit kekhawatiran di masyarakat bahwa PMK ini akan sama dengan coronavirus (SARS-CoV-2), yang "meloncat" dari kelelawar ke manusia, kemudian melahirkan pandemik COVID-19. Lantas, seperti apa potensi hal itu terjadi?

Darimana Datangnya Virus PMK?

Dalam buku Animal Viruses: Molecular Biolog (2008), dijelaskan bahwa biang kerok PMK adalah Foot-and-Mouth Disease virus (FMDV). Virus ini masuk dalam genus Aphthovirus dari famili Picornaviridae yang terdiri dari tujuh tipe yakni A, O, C, SAT1, SAT2, SAT3, dan Asia1.

PMK sendiri saat ini tercatat bersifat endemik di berbagai negara. Sejak kasus PMK pertama kali dicatat pada tahun 1870, peneliti menemukan fakta bahwa virus ini sangat bervariasi secara genetik, sehingga membatasi efektivitas vaksinasi.

PMK ini menyerang hewan-hewan ternak seperti sapi, kerbau, domba, kambing dan sapi, dengan masa inkubasi antara dua hingga 14 hari. Lalu ada juga hewan-hewan dengan kuku terbelah yakni kijang, rusa hingga banteng.

Di sisi lain, kasus PMK juga ditemukan pada hewan pemamah biak macam landak serta gajah. Canadian Food Inspection Agency juga menjelaskan bahwa Alpaka dan llama juga bisa tertular dengan gejala ringan, tapi tidak menularkannya ke sesama spesies. 

Gejala PMK sendiri umumnya identik di seluruh spesies. Antara lain demam (pyrexia) hingga mencapai 41 derajat Celcius, tidak nafsu makan, produksi susu sapi perah berkurang drastis, hipersativasi, saliva menggantung kemudian kelenjar submandibular alami pembengkakan, terjadi luka pada kuku, lesi abnormal dan masih banyak lagi.

Kasus terparah terjadi pada hewan-hewan yang diternakkan, lantaran tinggal berkelompok di satu tempat. Yang gawat, seekor sapi bisa terinfeksi virus FMD dalam jumlah kecil, tapi bisa terlihat sehat di mata orang awam dan peternak. Ini adalah penegas fakta bahwa virus FMD masih bisa menjadi carrier selama satu hingga dua tahun. 

Apa PMK Bisa Berpindah ke Manusia?

Jawaban singkatnya, bisa. Tapi, sangat langka dan tidak mematikan.

Canadian Food Inspection Agency menjelaskan bahwa PMK bisa berpindah ke hewan-hewan lain seperti tikus dan ayam. Tapi, para peneliti dalam riset yang dilakukan pada dekade 1980-an tersebut tidak yakin bahwa dua hewan itu tertular penyakit dalam kondisi alami, alias tertular lewat interaksi langsung.

Manusia bisa terinfeksi lewat luka di kulit atau lapisan mulut saat menangani atau berinteraksi ternak yang terinfeksi. Selain itu, meminum susu dari sapi perah yang terinfeksi juga bisa jadi penyebab. Tapi yang perlu digarisbwahi, PMK tidak bisa menular lewat daging yang dikonsumsi. Meski demikian, Kementan RI menetapkan kriteria "potong bersyarat."

Medium penularan virus FMD juga melalui lendir dan urin dari hewan terinfeksi. Bisa pula lewat alat atau benda yang berhubungan dengan peternakan seperti kandang, bahan makanan, kendaraan pengangkut, pakaian serta alas kaki petugas kandang.

Lebih jauh, kasus manusia terinfeksi PMK terbilang sangat langka, dengan gejala yang sangat mirip dengan flu ditambah munculnya ruam di tangan dan kaki. Kasus manusia terakhir terinfeksi langsung PMK dilaporkan oleh pemerintah Inggris pada 1966. Centers for Disease Control dan Prevention sendiri menyebut bahwa PMK ini akan sembuh dalam waktu antara satu pekan hingga sepuluh hari.

Kasus di mana manusia terinfeksi PMK meninggal dunia yang terdokumentasi juga dilaporkan oleh otoritas Inggris pada 1884. Dua orang anak kecil menjadi korban akibat susu yang mereka minum.

Seperti Apa Potensi Mutasinya?

Sama seperti virus-virus lainnya, PMK bisa bermutasi. Salah satunya yakni pada April 2005, saat strain Asia-1 muncul di provinsi Shandong dan Jiangsu, China timur. Strain tersebut kemudian menyebar luas ke seluruh wilayah, mulai dari Kota Beijing di pesisir timur, provinsi Hebei di utara, dan wilayah otonomi Xinjiang di barat laut.

Sekali lagi, karakteristik virus PMK yang berumur panjang membuatnya menyimpan potensi berbahaya. Area dengan sinar matahari minim, bersuhu dingin dan keberadaan bahan organik dari makhluk hidup (rambut, darah atau lemak) adalah jenis lingkungan yang ideal untuk virus PMK menjaga umurnya.

Sains berbicara bahwa agar menjadi penyakit/wabah yang menyerang dan menginfeksi sesama manusia, sebuah virus harus melewati beberapa fase batas spesies. Selama proses yang memakan waktu lama tersebut, efeknya pada spesies yang dijangkiti pun kecil.

Memang kasus manusia terinfeksi PMK terbilang sangat langka, dan sejauh ini belum ada laporan dari Kementerian Kesehatan yang melaporkan itu. Tapi, itu tak jadi alasan untuk melonggarkan kewaspadaan. Terlebih fakta sejarah mengungkapkan bahwa mutasi membuat virus bisa bertambah kuat.


Referensi :

Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaPenggunaan Ganja Medis: Apa Kata Riset?

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar