sejawat indonesia

Mengetahui Lebih Jauh tentang Vaksin Baru RSV

Tahun 2023 lalu, menjadi tahun terbaik dalam penanganan RSV. Dua vaksin untuk dewasa, Arexvy™ dari GlaxoSmithKline dan Abrysvo™ dari Pfizer disetujui oleh FDA. Beberapa waktu sebelumnya, nirsevimab, juga disetujui sebagai imunisasi untuk pencegahan RSV pada Bayi.

RSV (respiratory syncytial virus) adalah virus pernapasan umum yang menginfeksi paru-paru maupun saluran pernapasan. Virus ini biasanya menyebabkan pembengkakan dan peradangan pada tabung pernapasan, atau bronchioles, yang disebut bronchiolitis.

RSV adalah penyebab tersering bronchiolitis dan pneumonia  pada anak-anak di bawah usia 1 tahun dan mengakibatkan sakit yang cukup parah. Dan untuk bayi di bawah 6 bulan, virus ini cukup berbahaya karena bisa menyebabkan kematian. Pada beberapa kasus, anak harus dirawat di rumah sakit karena virus ini.

Mengapa Baru Sekarang Vaksinnya Bisa Tersedia? 

Vaksin terhadap RSV telah dikembangkan selama beberapa dekade. Salah satu masalah yang melanda produsen vaksin adalah sulitnya mengidentifikasi antigen – bagian dari virus yang menjadi target vaksin – yang tidak berubah. Protein F dari virus RSV terkenal mudah berubah bentuknya setelah menyatu dengan sel inang.

Pada tahun 2013 dan 2014, National Institutes of Health menemukan cara “membekukan” protein F menjadi bentuk tetap sebelum menyatu dengan sel sehingga vaksin dapat menargetkannya dengan baik. Hal ini merupakan terobosan yang memungkinkan pengembangan vaksin yang efektif dengan menggunakan target ini.

Selain tantangan dalam mengidentifikasi antigen yang baik, terdapat kemunduran sebelumnya. Upaya awal untuk membuat vaksin RSV yang tidak aktif pada tahun 1960-an terhenti karena vaksin tersebut menyebabkan penyakit RSV yang lebih parah. Anak-anak yang belum pernah menderita RSV sebelumnya dan menerima vaksin mengalami penyakit yang sangat parah ketika mereka bertemu dengan virus tersebut di masyarakat, dan dua anak meninggal. Akibat tragis tersebut menghambat pengembangan vaksin selama beberapa dekade, karena para peneliti perlu menyelidiki penyebabnya dan memastikan bahwa masalah tersebut tidak akan terjadi lagi pada vaksin di masa depan.


BACA JUGA:


Terobosan Baru Imunisasi RSV untuk Bayi

Sebelum nirsevimab, RSV dicegah dengan antibodi monoklonal lain bernama palivizumab (Synagis). Tetapi ia adalah suntikan bulanan, dan kriteria penggunaannya pada pasien berisiko tinggi masih membingungkan. Palivizumab telah terbukti melindungi pasien yang telah menggunakan oksigen selama beberapa waktu atau yang memiliki penyakit jantung bawaan. 

Sekarang hadir antibodi monoklonal baru, yang disebut nirsevimab (Beyfortus). Meskipun merupakan antibodi monoklonal seperti palivizumab, ia memiliki waktu paruh yang lebih lama. Daripada hanya bertahan 20 hari, nirsevimab bertahan selama 5 bulan. Artinya, suntikan satu kali mencakup seluruh musim bronkiolitis. Hal ini dilakukan dengan menargetkan protein F prefusi virus. Antibodi monoklonal menempel pada virus sebelum menyatu dengan sel. Itu merupakan keuntungan signifikan dibandingkan palivizumab.

Nirsevimab harus diberikan kepada semua bayi di bawah usia 8 bulan dan bayi berisiko tinggi (penyakit jantung bawaan, ketergantungan oksigen) di bawah usia 19 bulan.

Abrysvo dan Arexvy

Abrysvo dan Arexvy, keduanya efektif menurunkan risiko penyakit pernapasan akibat RSV pada orang dewasa berusia 60 tahun ke atas. Seperti yang telah diketahui, orang lanjut usia memiliki risiko lebih tinggi terkena RSV parah karena fungsi sistem kekebalan tubuh yang mulai berkurang seiring bertambahnya usia.

Sekitar 60.000 hingga 160.000 orang lanjut usia memerlukan rawat inap akibat RSV setiap tahunnya. 

Vaksin RSV diharapkan dapat mencegah ribuan rawat inap – dan bahkan lebih banyak lagi kunjungan rawat jalan – pada orang lanjut usia.

Abrysvo juga disetujui untuk digunakan pada wanita hamil untuk melindungi bayi baru lahir. Selain orang dewasa yang lebih tua, bayi juga berisiko lebih tinggi terkena RSV parah. Dalam hal ini, ibu hamil bisa mendapatkan vaksin RSV di kemudian hari selama kehamilan untuk melindungi bayinya setelah lahir.

Mirip dengan vaksin lain yang diberikan selama kehamilan, bayi dapat dilindungi untuk jangka waktu tertentu setelah mereka dilahirkan melalui kekebalan pasif. Ini terjadi ketika antibodi (sel memori kekebalan) dari ibu berpindah ke janin melalui plasenta selama kehamilan.

Pada bulan Agustus 2023, FDA menyetujui suntikan Abrysvo satu kali untuk wanita hamil selama minggu ke 32 hingga 36 kehamilan. Bila diberikan pada waktu tersebut, vaksin dapat mencegah penyakit pernafasan akibat RSV setidaknya 6 bulan setelah bayi lahir.

Abrysvo diteliti pada sekitar 3.500 wanita hamil. Dibandingkan dengan plasebo (suntikan tanpa vaksin), Abrysvo menurunkan risiko penyakit pernafasan akibat RSV pada bayi baru lahir sekitar 82% dalam waktu 3 bulan setelah lahir. Dan ketika vaksin diberikan antara minggu ke 32 dan 36 kehamilan, risiko ini berkurang sekitar 91%.

Sebagai catatan, terdapat persentase kelahiran prematur yang sedikit lebih tinggi pada wanita yang menerima Abrysvo dibandingkan dengan kelompok plasebo selama uji klinis. Namun tidak jelas apakah hal ini disebabkan oleh vaksin atau penyebab lain.


Referensi:

Tags :
Artikel sebelumnya5 Vitamin Terbaik Penghilang Stres
Artikel selanjutnyaDemam Berdarah Telah Menjadi Krisis Kesehatan Global Abad Ke-21. Apa Upaya Terkini Memberantasnya?

Event Mendatang

Komentar (0)
Komentar

Log in untuk komentar